<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4878495480096591345</id><updated>2011-10-05T22:46:00.914-07:00</updated><category term='Kidung Mauidzoh Hasanah'/><title type='text'>GUS MAKSUM UNWAHAS</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://uwhmaksum.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4878495480096591345/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://uwhmaksum.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>GusMaksum.Com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06399410419983207110</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_1Fy9u8mk4AY/SHDXVTcBPTI/AAAAAAAAAB0/SvZn35TzM9E/S220/IMAGE0001.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>15</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4878495480096591345.post-7228986437019615304</id><published>2010-06-22T08:36:00.000-07:00</published><updated>2010-06-22T08:38:40.890-07:00</updated><title type='text'>UNWAHAS ADA PORSEMA NU VII SE JATENG.............?</title><content type='html'>Sebanyak 3.000 pelajar MTs/SMP dan MA/SMA/SMK se-Jawa Tengah (Jateng) akan mengikuti kegiatan Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif (Porsema) Nahdlatul Ulama (NU) VII di Semarang. Pimpinan Wilayah Lembaga Pendidik Ma’arif NU Jateng, Mulyani M Noor menyatakan selain Porsema juga digelar olimpiade sains dan ke-NU-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kegiatan ini diikuti kontingen dari 24 kabupaten/kota se-Jateng, berlangsung 21-24 Juni 2010 di kampus Universitas Wahid Hasyim dan MTs Al Ashor, Gunungpati Semarang,” katanya didampingi ketua panitia Cholil Gunawi di Semarang, Jumat (18/6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cabang yang diperlombakan meliputi, bola voli, lari 5 Km, lari 100 meter, tennis lapangan, bulutangkis, sepaktakraw, seni pencak silat. Selain itu juga MTQ, cerdas-cermat Aswaja, keligrafi, puisi religi, pidato bahasa Inggris, bahasa Arab, bahasa Indonesia, bahas Jawa, karaoke qasidah, hadrah. Olimpiade IPA, IPS, matematika, biologi, dan kimia.&lt;br /&gt;Menurut Mulyani, kegiatan Porsema dan olimpiade sains sekaligus untuk menepis anggapan bahwa sekolah Ma’arif NU hanya bagus dalam bidang agama saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua panitia Cholil Gunawi menambahkan pembukaan kegiatan akan dilakukan Ketua Pimpinan Pusat Lembaga Pendidikan Ma’arif NU, Prof Mansyur Ramli yang juga Kepala Balitbang Kementerian Pendidikan Nasional, dan Gubernur Bibit Waluyo.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4878495480096591345-7228986437019615304?l=uwhmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://uwhmaksum.blogspot.com/feeds/7228986437019615304/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4878495480096591345&amp;postID=7228986437019615304' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4878495480096591345/posts/default/7228986437019615304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4878495480096591345/posts/default/7228986437019615304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://uwhmaksum.blogspot.com/2010/06/unwahas-ada-porsema-vii.html' title='UNWAHAS ADA PORSEMA NU VII SE JATENG.............?'/><author><name>GusMaksum.Com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06399410419983207110</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_1Fy9u8mk4AY/SHDXVTcBPTI/AAAAAAAAAB0/SvZn35TzM9E/S220/IMAGE0001.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4878495480096591345.post-2162950814391309529</id><published>2009-12-25T08:54:00.000-08:00</published><updated>2009-12-25T08:56:34.761-08:00</updated><title type='text'>Profil KH. M. Ma’shum bin Aly</title><content type='html'>&lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Banyak orang yang tak mengenal ulama alim satu ini. Sikap sederhana yang dimilikinya, membuat banyak orang tidak mengenalnya. Namun jangan dikira beliau adalah pengarang kitab &lt;em&gt;Al-Amtsilah At-Tashrifiyyah&lt;/em&gt;. Sebuah kitab sharaf yang amat masyhur di Nusantara bahkan negara luar sekali pun.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Nama lengkapnya, Muhammad Ma’shum bin Ali bin Abdul Muhyi Al-Maskumambani. Lahir di Maskumambang Gersik, tepatnya di sebuah pondok yang didirikan sang kakek.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Setelah belajar pada ayahnya, Ma’shum muda pergi menuntut ilmu di Pesantren Tebuireng Jombang. Ia termasuk salah satu santri &lt;em&gt;Hadratus Syekh &lt;/em&gt;Hasyim Asy’ari generasi awal. Dimana–saat itu–selain dituntut untuk belajar, para santri juga harus ikut berjuang melawan penjajah yang selalu mengganggu aktifitas mereka. Kedatangannya ke Tebuireng disusul oleh adik kandungnya, Adlan Ali–kelak atas inisiatif &lt;em&gt; Hadratus Syekh,&lt;/em&gt; Kiai Adlan mendirikan pondok putri Wali Songo di pusat desa Cukir.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bertahun-tahun lamanya beliau &lt;em&gt;khidmah/&lt;/em&gt;mengabdi di Tebuireng.  Kepintarannya dalam segala ilmu, terutama bidang extag/hisab, falak, sharaf dan gramatika arab, membuat &lt;em&gt;Hadratus Syekh&lt;/em&gt; kagum. Sehingga Kiai Ma’shum dinikahkah oleh Nyai. Khairiyah yang tak lain adalah putri Hadratu Syekh sendiri.&lt;/p&gt; &lt;p style="padding-left: 30px;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);"&gt;&lt;strong&gt;1. Mendirikan Pondok di Seblak&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Seblak adalah sebuah nama dusun di Desa Kwaron –sekitar 300 m  sebelah barat Tebuireng. Penduduk Seblak kala itu masih banyak yang melakukan kemungkaran. Seperti halnya warga Tebuireng sebelum kedatangan &lt;em&gt;Hadratus Syekh.&lt;/em&gt; Melihat kondisi demikian, Kiai Ma’shum terasa terpanggil. Hatinya terketuk untuk menyadarkan masyarakat setempat dan mengenalkan Islam secara perlahan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jerih payahnya diridhai Allah SWT. Pada tahun 1913, ketika usianya baru 26 tahun, beliau mendirikan pondok dan masjid di desa Seblak. Awalnya hanya sebuah rumah sederhana yang terbuat dari bambu. Seiring berjalannya waktu, pondok tersebut telah berkembang pesat.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Meski sudah berhasil mendirikan pondok, beliau tetap istiqamah mengajar di madrasah Salafiyah Syafiiyah Tebuireng membantu Hadratus Syekh mendidik santri. Pada tahun selanjutnya beliau diangkat menjadi Mufattis (Guru Pengawas) di Madrasah tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p style="padding-left: 30px;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);"&gt;&lt;strong&gt;2. Karya Pena Kiai Ma’shum&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jumlah karyanya tak sebanyak &lt;em&gt;Hadratus Syekh&lt;/em&gt; yang mencapai belasan kitab. Tetapi hamper seluruh kitab Kiai Ma’shum terbilang sangat monumental. Bahkan, banyak orang yang lebih mengenal karangannya dibanding si pengarangnya itu sendiri. Terhitung ada empat kitab karya beliau;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Al-Amtsilah At-Tashrifiyyah.&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;Kitab ini menerangkan ilmu &lt;em&gt;sharaf.&lt;/em&gt; Susunannya sistematis, sehingga mudah difaham dan dihafal bagi para pelajar. Hampir di seluruh lembaga pendidikan Islam baik di Indonesia atau negara luar, kitab ini menjadi salah satu bidang study yang tetap eksis dikaji. Karena saking masyhurnya, kitab ini mempunyai julukan “&lt;em&gt;Tasrifan Jombang”.&lt;/em&gt; Keagungan kitab ini tak hanya terletak pada ilmu sharaf. Bila diteliti ternyata memuat makna filosofi tinggi. Pada contoh &lt;em&gt;fi’il tsulasi mujarrad&lt;/em&gt; misalnya, keenam kalimat tersebut memiliki filososfi bahwa “pada awalnya sang santri ditolong oleh orang tuanya (&lt;em&gt;nashara&lt;/em&gt;), sesampainya di pesantren ia dipukul/dididik (&lt;em&gt;dlaraba). &lt;/em&gt;Kemudian setelah tersakiti, hatinya akan terbuka &lt;em&gt;(fataha)&lt;/em&gt;. Barulah ia akan pintar (‘&lt;em&gt;alima)&lt;/em&gt; dan menuntutnya agar berbuat baik (&lt;em&gt;hasuna). &lt;/em&gt;Ia berharap masuk surga di sisi Allah &lt;em&gt;(hasiba).&lt;/em&gt; Kitab yang terdiri dari 60 halaman ini, telah diterbitkan oleh banyak penerbit. Jadi kita tidak akan kesulitan mendapatkannya. Pada halaman pertama tertera sambutan berbahasa arab dari mentri Agama RI, KH. Saifuddin Zuhri.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Fath Al-Qadir. &lt;/em&gt;Konon, kitab ini adalah kitab pertama di Nusantara yang menerangkan ukuran Arab dalam bahasa Indonesia. Diterbitkan pada tahun 1920-an, ketika beliau masih hidup, oleh penerbit Salaim Nabhan Surabaya. Halamannya tipis tapi lengkap. Kini kitab tersebut banyak dijumpai di pasaran.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Ad-Durus Al-Falakiyah. &lt;/em&gt;Meskipun banyak orang yang beranggapan bahwa ilmu falak itu rumit, tetapi bagi orang yang mempelajari kitab ini akan berkesan “mudah”. Hal ini tak lain karena kehebatan Kiai Ma’shum dalam menyusun dan menguraikan bab dengan gamblang. Di dalamnya termuat ilmu hitung, logaritma, almanak masehi dan hijriyah, keberadaan  matahari dll. Kitab yang diterbitkan oleh Salim Nabhan Surabaya pada tahun 1375 H ini, terdiri dari tiga juz dalam satu jilidan dengan jumlah 109 halaman.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Badi’ah Al-Mitsal. &lt;/em&gt;Kitab ini juga menerangkan ilmu falak. Kali ini beliau menerangkan bahwa yang menjadi pusat peredaran alam semesta bukanlah matahari, sebagaimana teori Barat, &lt;em&gt;kabut pilin&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;pijar&lt;/em&gt;. Menurut beliau, yang menjadi pusat peredaran alam semesta ialah bumi. Sedangkan matahari, planet dan bintang yang jumlahnya sekian banyaknya, berjalan mengelilingi bumi.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="padding-left: 30px;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);"&gt;&lt;strong&gt;3. Kepribadian yang Sederhana&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebagai Kiai yang berilmu tinggi, Kiai Ma’shum bukan berarti harus meninggalkan pergaulnya bersama masyarakat awam. Beliau dikenal sebagi Kiai yang akrab dengan kalangan bawah. Bahkan saking akrabnya, banyak diantara mereka yang tak mengetahui kalau sebetulnya beliau adalah ulama besar.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Menurut pandangan beliau, semua orang lebih pintar darinya. Buktinya, beliau pernah berguru kepada nelayan. Kejadian ini terjadi taatkala beliau pergi haji. Selama perjalanan, Kiai Ma’shum menggunakan waktu yang cukup lama itu dengan berguru kepada nelayan di perahu. Beliau tidak merasa malu, meski orang lain menilainya aneh. Tak disangka, dari hasil pengamatan beliau itulah, lalu lahir kitab berjudul &lt;em&gt;Badi’ah Al-Mitsal.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Beliau juga dikenal sufi. Untuk menghindari sombong dihadapan manusia, menjelang wafat, beliau membakar fotonya. Padahal itu adalah satu-satunya foto yang beliau miliki. Hal ini tak lain karena beliau takut kalau dirinya diketahui oleh banyak orang, yang nantinya akan menimbulkan penyakit hati.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kesederhanaannya tidak hanya terlihat ketika beliau masih hidup. Setelah wafat pun, kesederhanaannya dapat kita lihat. Makam beliau tampak biasa-biasa saja (baca: sangat sederhana). Jangankan untuk hiasan yang menandakan sebagai makamnya seorang Kiai, batu nisannya saja hanya tersisa satu. Sampai banyak orang yang tidak tahu kalau sebenarnya itu adalah makam Kiai Ma’shum. Justru dari kesederhanan itulah, nama beliau dikenang dunia sebagi ulama alim dengan karyanya yang paling monumental dan fenomenal sepanjang zaman.&lt;/p&gt; &lt;h2 style="padding-left: 30px;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);"&gt;4. Hubungan yang Harmonis&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kehidupan sehari-hari beliau mencerminkan orang yang harmonis, baik bersama masyarakat,  keluarga, atau santri. Khusus kepada &lt;em&gt;Hadratus Syekh&lt;/em&gt;, Kiai Ma’shum sering menghadiahkan kitab kepada sang mertua yang juga gurunya itu. Ketika sepulangnya dari Mekkah pada tahun 1332 H, beliau tak lupa membawakan kitab &lt;em&gt;Al-Jawahir Al-Lawami’&lt;/em&gt; sebagi hadiah untuk beliau. Bahkan kitab &lt;em&gt;As-Syifa &lt;/em&gt;yang pernah diberikannya, menjadi kitab referensi utama Hadratus Syekh ketika mengarang kitab.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Almh. Ny. Khoiriyah Hasyim, menceritakan; suatu ketika Kiai Ma’sum pernah berdebat dengan &lt;em&gt;Hadratus Syekh&lt;/em&gt; tentang dua persoalan, foto dan penentuan awal ramadhan (lihat; Heru Sukardi: 1979). Menurut Kiai Ma’sum, foto tidak haram. Sedangkan &lt;em&gt;Hadratus Syekh&lt;/em&gt; menyatakan haram.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Begitu pula mengenai permulaan bulan puasa, Kiai Maksum telah menentukannya dengan &lt;em&gt;hisab&lt;/em&gt;. Sedangkan &lt;em&gt;Hadratus Syekh&lt;/em&gt; memilih dengan teori &lt;em&gt;ru’yat&lt;/em&gt;. Akibat perselisihan ini, keluarga Kiai Maksum di Seblak lebih dahulu berpuasa dari pada keluarga Kiai Hasyim dan para santri di Tebuireng.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Walaupun kedua ulama’ terkemuka ini sering berbeda pendapat, namun hubungan keduanya tetap terjalin akrab, layak tak ada konflik yang mengingat. Ada seorang santri yang mengatakan kalau Kiai Ma’sum tidak punya adab, ia berani berbeda pandang dengan guru yang sekaligus mertuanya sendiri. Mengetahui hal itu &lt;em&gt;Hadratus Syekh&lt;/em&gt; menegurnya “&lt;em&gt;Setiap orang memiliki pendirian sendiri-sendiri, harap dalam hal yang seperti ini saudara jangan ikut campur tangan.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);"&gt;&lt;strong&gt;Pulang Keharibaan Ilahi Rabbi&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada tangal 24 Ramadhan 1351 atau 8 Januari 1933, Kiai Ma’sum wafat sebab penyakit paru-paru yang dideritanya. Usianya &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;+&lt;/span&gt; 46 tahu. Kewafatan beliau membawa musibah besar, terutama bagi santri Tebuireng. Karena beliaulah satu-satunya Kiai yang menjadi rujukan utama dalam segala bidang keilmuan setelah &lt;em&gt;Hadratus Syekh&lt;/em&gt; .&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sungguh besar jasa beliau dalam bidang keilmuan. Kita dapat merasakannya dari peninggalan karya beliau yang hingga kini belum ada seorang ulama pun yang mampu menyainginya.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Semoga segala perjuangan beliau diterima oleh Allah SWT dan apa yang beliau tinggalkan semoga bermanfaat tiada henti, hingga menjadikannya amal jariyah nan abadi. &lt;em&gt;Allahummagfir lah wa nafa’ana bih wa biulumih Amin. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4878495480096591345-2162950814391309529?l=uwhmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://uwhmaksum.blogspot.com/feeds/2162950814391309529/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4878495480096591345&amp;postID=2162950814391309529' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4878495480096591345/posts/default/2162950814391309529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4878495480096591345/posts/default/2162950814391309529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://uwhmaksum.blogspot.com/2009/12/profil-kh-m-mashum-bin-aly.html' title='Profil KH. M. Ma’shum bin Aly'/><author><name>GusMaksum.Com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06399410419983207110</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_1Fy9u8mk4AY/SHDXVTcBPTI/AAAAAAAAAB0/SvZn35TzM9E/S220/IMAGE0001.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4878495480096591345.post-73888511120484899</id><published>2009-12-25T08:47:00.000-08:00</published><updated>2009-12-25T08:52:40.153-08:00</updated><title type='text'>Hadratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_1Fy9u8mk4AY/SzTttBq7ApI/AAAAAAAAAG0/RnFrIOh7L38/s1600-h/KH+HASYIM+ASY%27ARI.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 225px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_1Fy9u8mk4AY/SzTttBq7ApI/AAAAAAAAAG0/RnFrIOh7L38/s320/KH+HASYIM+ASY%27ARI.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5419217609431909010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;Muqadimah &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;Telah dimaklumi, bahwa usia yang panjang bagi seorang hamba adalah merupakan rahmat tersendiri dari Allah SWT. Apalagi umur yang panjang dalam kehidupan di dunia ini, dihiasi serta dipenuhi dengan amal kebaikan, baik vertikal maupun horizontal, KH. M. Hasyim Asy’ari&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;merupakan salah satunya. Sejarah panjangnya, dalam pengabdian serta perjuangan untuk agama, bangsa dan negara, telah terukir dalam tinta mas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;Pengabdian serta perjuangan telah terbukti dengan kepribadiannya selama masa revolusi fisik untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan negara republik Indonesia ini, dan selanjutnya mengisi kemerdekaan tersebut melalaui bidang pendidikan dan pengajaran. Bukan cuma itu, buah pemikiran beliau yang dituangkan ke dalam sejumlah kitab, masih banyak yang belum diketahui.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;Melukiskan orang besar sekaliber KH. M. Hasyim Asy’ari, serta pemikirannya bukanlah suatu yang mudah, karena ada kehawatiran akan mereduksi gambaran sang tokoh dan karya-karyanya. Namun masih tersisa harapan, semoga hal tersebut dapat merangsang pembaca untuk menggali lebih dekat, baik seputar kelahiran, keluarga, perjalanan studi, gagasan-gagasan besar dan peninggalan yang harus dirawat, serta pemikiran beliau yang dituangkan dalam karya kitab-kitabyan yang berbahasa arab (kitab kuning). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;Kelahiran Dan Masa Kecil &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;Tidak jauh dari jantung kota Jombang ada sebuah dukuh yang bernama Ngedang Desa Tambak Rejo yang dahulu terdapat Pondok Pesantren yang konon pondok tertua di Jombang, dan pengasuhnya Kiai Usman. Beliau adalah seorang kiai besar, alim dan sangat berpengaruh, istri beliau Nyai Lajjinah dan dikaruniai enam anak: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="margin-top: 0pt;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Halimah (Winih)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Muhammad&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Leler&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Fadli&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Arifah&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Halimah kemudian dijodohkan dengan seorang santri ayahandanya yang bernama Asy’ari, ketika itu Halimah masih berumur 4 tahun sedangkan Asy’ari hampir beruisa 25 tahun. Mereka dikarunia 10 anak:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="margin-top: 0pt;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Nafi’ah &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Ahmad Saleh &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Muhammad Hasyim&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Radiyah &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Hasan &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Anis &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Fatonah &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Maimunah &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Maksun &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Nahrowi, dan &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Adnan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Muhammad Hasyim, lahir pada hari Selasa Tanggal 24 Dzulqo’dah 1287 H, bertepatan dengan tanggal 14 Pebruari 1871 M. Masa dalam kandungan dan kelahira KH.M. Hasyim Asy’ari, nampak adanya sebuah isyaroh yang menunjukkan kebesarannya. diantaranya, ketika dalam kandungan Nyai Halimah bermimpi melihat bulan purnama yang jatuh kedalam kandungannya, begitu pula ketika melahirkan Nyai Halimah tidak merasakan sakit seperti apa yang dirasakan wanita ketika melahirkan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;Di masa kecil belaiu hidup bersama kakek dan neneknya di Desa Ngedang, ini berlangsung selama enam tahun. Setelah itu beliau mengikuti kedua orang tuanya yang pindah ke Desa Keras terletak diselatan kota Jomabng dan di desa tersebut Kiai Asy’ari mendirikan pondok pesantren yang bernama Asy’ariyah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;Principle of early learning (sulit tergantikan dari unsur-unsur asing), mungkin teori ini layak disandang oleh beliau, berdasarkan kehidupan belaiu yang mendukung yaitu hidup dilingkungan pesantren, sehingga wajar kalau nilai-nilai pesantren sangat meresap pada dirinya, begitu pula nilai-nilai pesantren dapat dilihat bagimana ayahanda dan bundanya memberikan bimbingan kepada santri, dan bagaimana para santri hidup dengan sederhana penuh dengan keakraban dan saling membantu..&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Rihlah Ilmiyah&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;&lt;span&gt;a.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Belajar Pada Keluarga&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 18pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;&lt;span&gt;          &lt;/span&gt;Perjalanan keluarga beliau pulalah yang memulai pertama kali belajar ilmu-ilmu agama baik dari kakek dan neneknya. Desa Keras membawa perubahan hidup yang pertama kali baginya, disini mula-mula ia menerima pelajaran agama yang luas dari ayahnya yang pada saat itu pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Asy’ariyah. &lt;span&gt; &lt;/span&gt;Dengan modal kecerdasan yang dimiliki dan dorongan lingkungan yang kondusif, dalam usia yang cukup muda, beliau sudah dapat memahami ilmu-ilmu agama, baik bimbingan keluarga, guru, atau belajar secara autodidak. Ketidak puasannya terdahap apa yang sudah dipelajari, dan kehausan akan mutiara ilmu, membuatnya tidak cukup hanya belajar pada lingkungan keluarganya. Setelah sekitar sembilan tahun di Desa Keras&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;(umur 15 tahun) yakni belajar pada keluarganya, beliau mulai melakukuan pengembaraanya menuntut ilmu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 18pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 18pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;b. Mengembara ke Berbagai Pesantren&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 18pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;&lt;span&gt;          &lt;/span&gt;Dalam usia 15 tahun, perjalanan awal menuntut ilmu, Muhammad Hasyim belajar ke pondok-pondik pesantren yang masyhur di tanah Jawa, khususnya Jawa Timur. Di antaranya adalah Pondok Pesantren Wonorejo di Jombang, Wonokoyo di Probolinggo, Tringgilis di Surabaya, dan Langitan di Tuban (sekarang diasuh oleh K.H Abdullah Faqih), kemudian Bangkalan, Madura, di bawah bimbingan Kiai Muhammad Khalil bin Abdul Latif (Syaikhuna Khalil). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 18pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;&lt;span&gt;          &lt;/span&gt;Ada cerita yang cukup mengagumkan tatkala KH.M. Hasyim Asy’ari &lt;em&gt;“ngangsu kawruh”&lt;/em&gt; dengan Kiai Khalil. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;Suatu hari, beliau melihat Kiai Khalil bersedih, beliau memberanikan diri untuk bertannya. Kiai Khalil menjawab, bahwa cincin istrinya jatuh di WC, Kiai Hasyim lantas usul agar Kiai Khalil membeli cincin lagi. Namun, Kiai Khalil mengatakan bahwa cincin itu adalah cincin istinya. Setelah melihat kesedihan diwajah guru besarnya itu, Kiai Hasyim menawarkan diri untuk mencari cincin tersebut didalam WC. Akhirnya, Kiai Hasyim benar-benar mencari cincin itu didalam WC, dengan penuh kesungguhan, kesabaran, dan keikhlasan, akhirnya Kiai Hasyim menemukan cincin tersebut. Alangkah bahagianya Kiai Khalil atas keberhasilan Kiai Hasyim itu. Dari kejadian inilah Kiai Hasyim menjadi sangat dekat dengan Kiai Khalil, baik semasa menjadi santrinya maupun setelah kembali kemasyarakat untuk berjuang. Hal ini terbukti dengan pemberian tongkat saat Kiai Hasyim hendak mendirikan Jam’iyah Nahdlatul Ulama’ yang dibawa KH. As’ad Syamsul Arifin (pengasuh Pondok Pesantren Syafi’iyah Situbondo). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 18pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;&lt;span&gt;          &lt;/span&gt;Setelah sekitar lima tahun menuntut ilmu di tanah Madura (tepatnya pada tahun 1307 H/1891 M), akhirnya beliau kembali ke tanah Jawa, belajar di pesantren Siwalan, Sono Sidoarjo, dibawah bimbingan K. H. Ya’qub yang terkenal ilmu nahwau dan shorofnya. Selang beberapa lama,&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Kiai Ya’qub semakin mengenal dekat santri tersebut dan semakin menaruh minat untuk dijadikan menantunya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 18pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;&lt;span&gt;          &lt;/span&gt;Pada tahun 1303 H/1892 M., Kiai Hasyim yang saat itu baru berusia 21 tahun menikah dengan Nyai Nafisah, putri Kiai Ya’qub. Tidak lama setelah pernikahan tersebut, beliau kemudian pergi ke tanah suci Mekah untuk menunaikan ibadah haji bersama istri dan mertuanya. Disamping menunaikan ibadah haji, di Mekah beliau juga memperdalam ilmu pengetahuan yang telah dimilkinya, dan menyerap ilmu-ilmu baru yang diperlukan. Hampir seluruh disiplin ilmu agama dipelajarinya, terutama ilmu-ilmu yang berkaitan dengan hadits Rasulullah SAW yang menjadi kegemarannya sejak di tanah air.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 18pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;&lt;span&gt;          &lt;/span&gt;Perjalanan hidup terkadang sulit diduga, gembira dan sedih datang silih berganti.demikian juga yang dialami Kiai Hasyim Asy’ari di tanah suci Mekah. Setelah tujuh bulan bermukim di Mekah, beliau dikaruniai putra yang diberi nama Abdullah. Di tengah kegembiraan memperoleh buah hati itu, sang istri mengalami sakit parah dan kemudian meninggal dunia. empat puluh hari kemudian, putra beliau, Abdullah, juga menyusul sang ibu berpulang ke Rahmatullah. Kesedihan beliau yang saat itu sudah mulai dikenal sebagai seorang ulama, nyaris tak tertahankan. Satu-satunya penghibur hati beliau adalah melaksanakan thawaf dan ibadah-ibadah lainnya yang nyaris tak pernah berhenti dilakukannya. Disamping itu, beliau juga memiliki teman setia berupa kitab-kitab yang senantiasa dikaji setiap saat. Sampai akhirnya, beliau meninggalkan tanah suci, kembali ke tanah air bersama mertuanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 18pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 36pt; text-indent: -36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;&lt;span&gt;c.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Kematangan Ilmu di Tanah Suci&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;&lt;span&gt;     &lt;/span&gt;Kerinduan akan tanah suci rupanya memanggil beliau untuk kembali lagi pergi ke kota Mekah. Pada tahun 1309 H/1893 M, beliau berangkat kembali ke tanah suci bersama adik kandungnya yang bernama Anis. Kenagan indah dan sedih teringat kembali tat kala kaki beliau kembali menginjak tanah suci Mekah. Namun hal itu justru membangkitkan semangat baru untuk lebih menekuni ibadah dan mendalami ilmu pengetahuan. Tempat-tempat bersejarah dan mustajabah pun tak luput dikunjunginya, dengan berdoa untuk meraih cita-cita, seperti Padang Arafah, Gua Hira’, Maqam Ibrahim, dan tempat-tempat lainnya. Bahkan makam Rasulullah SAW di Madinah pun selalu menjadi tempat ziarah beliau. Ulama-ulama besar yang tersohor pada saat itu didatanginya untuk belajar sekaligus mengambil berkah, di antaranya adalah Syaikh Su’ab bin Abdurrahman, Syaikh Muhammad Mahfud Termas (dalam ilmu bahasa dan syariah), Sayyid Abbas Al-Maliki al-Hasani (dalam ilmu hadits), Syaikh Nawawi Al-Bantani dan Syaikh Khatib Al-Minang Kabawi (dalam segala bidang keilmuan),&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;&lt;span&gt;     &lt;/span&gt;Upaya yang melelahkan ini tidak sia-sia. Setelah sekian tahun berada di Mekah, beliau pulang ke tanah air dengan membawa ilmu agama yang nyaris lengkap, baik yang bersifat &lt;em&gt;ma’qul&lt;/em&gt; maupun &lt;em&gt;manqul&lt;/em&gt;, seabagi bekal untuk beramal dan mengajar di kampung halaman. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;Peran-Peran Besar KH. M. Hasyim Asy’ari&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 18pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;&lt;span&gt;a.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;&lt;span&gt;     &lt;/span&gt;Sepulang dari tanah suci sekitar Tahun1313 H/1899 M, beliau memulai mengajar santri, beliau pertama kali mengajar di Pesantren Ngedang yang diasuh oleh mediang kakeknya, sekaligus tempat dimana ia dilahirkan dan dibesarkan. Setelah itu belaiu mengajar di Desa Muning Mojoroto Kediri. Disinilah beliau sempat menikahi salah seoarang putri Kiai Sholeh Banjar Melati. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;Akungnya, karena berbagai hal, pernikahan tersebut tidak berjalan lama sehingga Kiai Hasyim kembali lagi ke Jombang.&lt;span&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;&lt;span&gt;     &lt;/span&gt;Ketika telah berada di Jombang beliau berencana membangun sebuah pesantren yang dipilihlah sebuah tempat di Dusun Tebuireng yang pada saat itu merupakan sarang kemaksiatan dan kekacauan. Pilihan itu tentu saja menuai tanda tanaya besar dikalangan masyarakat, akan tetapi semua itu tidak dihiraukannaya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;&lt;span&gt;     &lt;/span&gt;Nama Tebuireng pada asalnya Kebo ireng (kerbau hitam). Ceritanya, Di dearah tersebut ada se-eokor kerbau yang terbenam didalam Lumpur, dimana tempat itu banyak sekali lintahnya, ketika ditarik didarat, tubuh kerbau itu sudah berubah warna yang asalnya putih kemerah-merahan berubah menjadi kehitam-hitaman yang dipenuhi dengan lintah. Konon semenjak itulah daerah tadi dinamakan Keboireng yang akhirnya berubah menjadi Tebuireng.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;&lt;span&gt;     &lt;/span&gt;Pada tanggal 26 Robiul Awal 1317 H/1899 M, didirikanlah Pondok Pesantren Tebuireng, bersama rekan-rekan seperjuangnya, seperti Kiai Abas Buntet, Kiai Sholeh Benda Kereb, Kiai Syamsuri Wanan Tara, dan beberapa Kiai lainnya, segala kesuliatan dan ancaman pihak-pihak yang benci terhadap penyiaran pendidikan Islam di Tebuireng dapat diatasi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;&lt;span&gt;     &lt;/span&gt;KH. M. Hasyim Asya’ri memulai sebuah tradisi yang kemudian menjadi salah satu keistimewaan beliau yaitu menghatamkan kitab shakhihaini &lt;em&gt;“Al-Bukhori dan Muslim” &lt;/em&gt;dilaksanakan pada setiap bulan suci ramadlan yang konon diikuti oleh ratusan kiai yang datang berbondong-bondong dari seluruh jawa. Tradisi ini berjalan hingga sampai sekarang (penggasuh PP. Tebuireng KH. M.Yusuf Hasyim). Para awalnya santri Pondok Tebuireng yang pertama berjumlah 28 orang, kemudian bertambah hingga ratusan orang, bahkan diakhir hayatnya telah mencapai ribuan orang, alumnus-alumnus Pondok Tebuireng yang sukses menjadi ulama’ besar dan menjadi pejabat-pejabat tinggi negara, dan Tebuireng menjadi kiblat pondok pesantren.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 18pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;b.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Mendirikan Nahdlatul Ulama&lt;em&gt;’&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;&lt;span&gt;     &lt;/span&gt;Disamping aktif mengajar belaiu juga aktif dalam berbagai kegiatan, baik yang bersifat lokal atau nasional. Pada tanggal 16 Sa’ban 1344 H/31 Januari 1926 M, di Jombang Jawa Timur didirikanlhn Jam’iyah Nahdlotul Ulama’ (kebangkitan ulama) bersama KH. Bisri Syamsuri, KH. Wahab Hasbullah, dan ulama’-ulama’ besar lainnya, dengan azaz dan tujuannya: &lt;em&gt;“Memegang dengan teguh pada salah satu dari madzhab empat yaitu Imam Muhammad bin Idris Asyafi’i, Imam Malik bin Anas, Imam Abu Hanifah An-Nu’am dan Ahmad bin Hambali. Dan juga mengerjakan apa saja yang menjadikan kemaslahatan agama Islam”.&lt;/em&gt;&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;KH. Hasyim Asy’ari terpilih menjadi rois akbar NU, sebuah gelar sehingga kini tidak seorang pun menyandangnya. Beliau juga menyusun qanun asasi (peraturan dasar) NU yang mengembangkan faham ahli sunnah waljama’ah…&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;&lt;span&gt;     &lt;/span&gt;Nahdlatul ulama’ sebagai suatu ikatan ulama’ seluruh Indonesia dan mengajarkan berjihad untuk keyakinan dengan sistem berorganisasi. Memang tidak mudah untuk menyatukan ulama’ yang berbeda-beda dalam sudut pandangnya, tetapi bukan Kiai Hasyim kalau menyerah begitu saja, bahwa beliau melihat perjuangan yang dilakukan sendiri-sendiri akan lebih besar membuka kesempatan musuh untuk mengancurkannya, baik penjajah atau mereka yang ingin memadamkan sinar dan syi’ar Islam di Indonesia, untuk mengadudombanya antar sesama. Beliau sebagai orang yang tajam dan jauh pola pikirnya dalam hal ini, melihat bahaya yang akan dihadapkannya oleh umat Islam, dan oleh karena itu beliau berfikir mencari jalan keluarnya yaitu dengan membentuk sebuah organisasi dengan dasar-dasar yang dapat diterima oleh ulama’ulama lain. &lt;span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;&lt;span&gt;     &lt;/span&gt;Jam’iyah ini berpegang pada faham ahlu sunnah wal jama’ah, yang mengakomodir pada batas-batas tertentu pola bermadzhab, yang belakangan lebih condong pada &lt;em&gt;manhaj&lt;/em&gt; dari pada sekedar qauli. Pada dasawarsa pertama NU berorentasi pada persoalan agama dan kemasyarakatan. Kegiatan diarahkankan pada persoalan pendidikan, pengajian dan tabligh. Namun ketika memasuki dasawarsa kedua orentasi diperluas pada persoalan-persolan nasional. Hal tersebut terkait dengan keberadaannya sebagai anggota federasi Partai dan Perhimpunan Muslim Indonesia (MIAI) NU bahkan pada perjalanan sejarahnya pernah tampil sebagai salah satu partai polotik peserta pemilu, yang kemudian menyatu dengan PPP, peran NU dalam politik praktis ini kemudian diangulir dengan keputusan Muktamar Situbono yanh menghendaki NU sebagai organisasi sosial keagamaan kembali pada khitohnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 18pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;c.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Pejuang Kemerdekaan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 18pt; text-indent: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;Peran KH. M. Hasyim Asy’ari tidak hanya terbatas pada bidang keilmuan dan keagamaan, melainkan juga dalam bidang sosial dan kebangsaan, beliau terlibat secara aktif dalam perjuangan membebaskan bangsa dari penjajah belanda. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 18pt; text-indent: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;Pada tahun 1937 beliau didatangi pimpinan pemerintah belanda dengan memberikan bintang mas dan perak tanda kehormatan tetapi beliau menolaknya. Kemudian pada malam harinya beliau memberikan nasehat kepada santri-santrinya tentang kejadian tersebut dan menganalogkan dengan kejadian yang dialami Nabi Muhammad SAW yang ketika itu kaum Jahiliyah menawarinya dengan tiga hal, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 54pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;Kursi kedudukan yang tinggi dalam pemerintahan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 54pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Harta benda yang berlimpah-limpah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 54pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Gadis-gadis tercantik&lt;span&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 18pt; text-indent: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Akan tetapi Nabi SAW menolaknya bahkan berkata: “Demi Allah, jika mereka kuasa meletakkan matahari ditangan kananku dan bulan ditangan kiriku dengan tujuan agar aku berhenti dalam berjuang, aku tidak akan mau menerimanya bahkan nyawa taruhannya”. Akhir KH.M. Hasyim Asy’ari mengakhiri nasehat kepada santri-santrinya untuk selalu mengikuti dan menjadikan tauladan dari perbuat Nabi SAW&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 18pt; text-indent: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;Masa-masa revolusi fisik di Tahun 1940, barang kali memang merupakan kurun waktu terberat bagi beliau. Pada masa penjajahan Jepang, beliau sempat ditahan oleh pemerintah fasisme Jepang. Dalam tahanan itu beliau mengalami penyiksaan fisik sehingga salah satu jari tangan beliau menjadi cacat. Tetapi justru pada kurun waktu itulah beliau menorehkan lembaran dalam tinta emas pada lembaran perjuangan bangsa dan Negara republik Indonesia, yaitu dengan diserukan resolusi jihad yang beliau mefatwakan pada tanggal 22 Oktober 1945, di Surabaya yang lebih dikenal dengan hari pahlawan nasional.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 18pt; text-indent: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;Begitu pula masa penjajah Jepang , pada tahun 1942 Kiai Hasyim dipenjara (Jombang) dan dipindahkan penjara Mojokerto kemudian ditawan disurabaya. Beliau dianggap sebagai penghalang pergerakan Jepang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 18pt; text-indent: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;Setelah Indonesia merdeka Pada tahun 1945 KH. M. Hasyim Asy’ari terpilih sebagai ketua umum dewan partai Majlis Syuro Muslimin Indonesia (MASYUMI) jabatan itu dipangkunya namuni tetap mengajar dipesantren hingga beliau meninggal dunia pada tahun 1947.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 18pt; text-indent: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;Keluarga Dan Sisilah&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;Hampir bersamaan dengan berdirinya Pondok Pesantren Tebuireng (1317 H/1899 M), KH. M. Hasyim&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Asya’ri menikah lagi dengan Nyai Nafiqoh putri Kiai Ilyas pengasuh Pondok Pesantren Sewulan Madiun. Dari perkawinan ini kiai hasyim dikaruniai 10 putra dan putri yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="margin-top: 0pt;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Hannah &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Khoiriyah &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Aisyah &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Azzah &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Abdul Wahid &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Abdul hakim (Abdul Kholiq) &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Abdul Karim&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Ubaidillah&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Mashurroh &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Muhammad Yusuf.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Menjelang akhir Tahun 1930, KH. M. Hasyim Asya’ri menikah kembali denagn Nyai Masruroh, putri Kiai Hasan, pengasuh Pondok Pesantren Kapurejo, Kecamatan Pagu Kediri, dari pernikahan tersebut, beliua dikarunia 4 orang putra-putri yaitu: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="margin-top: 0pt;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Abdul Qodir &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Fatimah &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Chotijah &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Muhammad Ya’kub&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 18pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 18pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Garis keturunan KH. M. Hasyim Asy’ari (Nenek ke-sembilan )&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Muhammad Hasyim bin Asy’ari bin Abdul Wahid (Pangeran Sambo) bin Abdul Halim (Pangeran Benowo) bin Abdul Rahman (Mas Karebet/Jaga Tingkir) yang kemudian bergelar Sultan Hadiwijaya bin Abdullah (Lembu Peteng) yang bergelar Brawijaya VI &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Wafatnya Sang Tokoh&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Pada Tanggal 7 Ramadhan 1366 M. jam 9 malam, beliau setelah mengimami Shalat Tarawih, sebagaimana biasanya duduk di kursi untuk memberikan pengajian kepada ibu-ibu muslimat. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;Tak lama kemudian, tiba-tiba datanglah seorang tamu utusan Jenderal Sudirman dan Bung Tomo. Sang Kia menemui utusan tersebut dengan didampingi Kiai Ghufron, kemudian tamu itu menyampaikan pesan berupa surat. Entah apa isi surat itu, yang jelas Kiai Hasyim meminta waktu semalam untuk berfikir dan jawabannya akan diberikan keesokan harinya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;Namun kemudian, Kiai Ghufron melaporkan situasi pertempuran dan kondisi pejuang yang semakin tersudut, serta korban rakyat sipil yang kian meningkat. Mendengar laporan itu, Kiai Hasyim berkata, “Masya Allah, Masya Allah…” kemudian beliau memegang kepalanya dan ditafsirkan oleh Kiai Ghufron bahwa beliau sedang mengantuk. Sehingga para tamu pamit keluar. Akan tetapi, beliau tidak menjawab, sehingga Kiai Ghufron mendekat dan kemudian meminta kedua tamu tersebut untuik meninggalkan tempat, sedangkan dia sendiri tetap berada di samping Kiai Hasyim Asy’ari. Tak lama kemudian, Kiai Ghufron baru menyadari bahwa Kiai Hasiyim tidak sadarkan diri. Sehingga dengan tergopoh-gopoh, ia memanggil keluarga dan membujurkan tubuh Kiai Hasyim. Pada saat itu, putra-putri beliau tidak berada di tempat, misalnya Kiai Yusuf Hasyim yang pada saat itu sedang berada di markas tentara pejuang, walaupun kemudian dapat hadir dan dokter didatangkan (Dokter Angka Nitisastro).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;Tak lama kemudian baru diketahui bahwa Kiai Hasyim terkena pendarahan otak. Walaupun dokter telah berusaha mengurangi penyakitnya, namun Tuhan berkehendak lain pada kekasihnya itu. KH.M. Hasyim Asy’ari wafat pada pukul 03.00 pagi, Tanggal 25 Juli 1947, bertepatan dengan Tanggal 07 Ramadhan 1366 H. &lt;em&gt;Inna LiLlahi wa Inna Ilaihi Raji’un.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;Kepergian belaiu ketempat peristirahatan terakhir, diantarkan bela sungkawa yang amat dalam dari hampir seluruh lapisan masyarakat, terutama dari para pejabat sipil maupun militer, kawan seperjuangan, para ulama, warga NU, dan khususnya para santri Tebuireng. Umat Islam telah kehilangan pemimpin besarnya yang kini berbaring&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;di pusara beliau di tenggah Pesantrn Tebuireng. Pada saat mengantar kepergianya, shahabat dan saudara beliau, KH. Wahab hazbulloh, sempat mengemukakan kata sambutan yang pada intinya menjelaskan prinsip hidup belaiu, yakni, “berjuang terus dengan tiada mengenal surut, dan kalau perlu zonder istirahat”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;Karya Kitab klasik&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;Peninggalan lain yang sangat berharga adalah sejumlah kitab yang beliau tulis disela-sela kehidupan beliau didalam mendidik santri, mengayomi ribuat umat, membela dan memperjuangkan bumi pertiwi dari penjajahan. Ini merupakan bukti riil dari skap dan prilakunya, pemikiranya dapat dilacak dalam beberapa karyanya yang rata-rata berbahasa arab.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-indent: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;Tetapi sangat diakungkan, karena kuarang lengkapnya dokumentasi, kitab-kitab yang sangat berharga itu lenyap tak tentu rimbanya. Sebenarnya, kitab yang beliau tulis tidak kurang dari dua puluhan judul. Namun diakungkan yang bisa diselamatkan hanya beberapa judul saja, diantaranya:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="margin-top: 0pt;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Al-Nurul Mubin Fi Mahabati Sayyidi Mursalin. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Kajian kewajiban beriman, mentaati, mentauladani, berlaku ikhlas, mencinatai Nabi SAW sekaligus sejarah hidupnya&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;2.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Al-Tanbihat al-Wajibat Liman Yashna’u al-Maulida Bi al-Munkarat. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;Kajian mengenai maulid nabi dalam kaitannya dengan amar ma’ruf nahi mungkar&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;3.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Risalah Ahli Sunnah Wal Jama’ah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;Kajian mengenai pandangan terhadap bid’ah, Konsisi salah satu madzhab, dan pecahnya umat menjadi 73 golongan&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;4. Al-Durasul Muntasyiroh Fi Masail Tis’a ‘asyaraoh. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;Kajian tentang wali dan thoriqoh yang terangkum dalam sembilan belas permasalahan.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="margin-top: 0pt;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;Al-Tibyan Fi Nahyi’an Muqatha’ah al-Arham Wa al-Aqrab Wa al-Akhwal&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;Kajian tentang pentingnya jalinan silaturahmi antar sesama manusia&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="margin-top: 0pt;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"  &gt;Adabul ‘Alim Wa Muata’alim. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;Pandangan tentang etika belajar dan mengajar didalam pendidikan pesantrren pada khususnya&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="margin-top: 0pt;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;Dlau’ al-Misbah Fi Bayani Ahkami Nikah. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;Kajian hukum-hukum nikah, syarat, rukun, dan hak-hak dalam perkawinan&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 36pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:10pt;"   lang="SV"&gt;8.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Ziyadah Ta’liqot. Kitab yang berisikan&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;polemic beliau dengan syaikh Abdullah bin&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;yasir Pasuruaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4878495480096591345-73888511120484899?l=uwhmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://uwhmaksum.blogspot.com/feeds/73888511120484899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4878495480096591345&amp;postID=73888511120484899' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4878495480096591345/posts/default/73888511120484899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4878495480096591345/posts/default/73888511120484899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://uwhmaksum.blogspot.com/2009/12/hadratus-syaikh-kh-m-hasyim-asyari.html' title='Hadratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari'/><author><name>GusMaksum.Com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06399410419983207110</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_1Fy9u8mk4AY/SHDXVTcBPTI/AAAAAAAAAB0/SvZn35TzM9E/S220/IMAGE0001.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_1Fy9u8mk4AY/SzTttBq7ApI/AAAAAAAAAG0/RnFrIOh7L38/s72-c/KH+HASYIM+ASY%27ARI.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4878495480096591345.post-6921200745225686981</id><published>2009-12-25T08:46:00.000-08:00</published><updated>2009-12-25T08:47:31.018-08:00</updated><title type='text'>BIOGRAFI IMAM GHOZALI</title><content type='html'>&lt;p&gt;Dia adalah imam Abu Hamid Muhammad bin Ahmad al Ghozali yang dijuluki Hujjatul Islam. dia ulama terkenal dari Thus yang bermadzhab syafi i , Imam besar ini memimiki peran yang saogat besar dalam memajukan peradaban islam. keharuman namanya mampu mencerahkan hati manusia dan nenghidupkan jiwanya. Beliau lahir di Thus pada tahun 450. dan ayahnya seorang pemintal wol kemudian menjualnya dikedainya .&lt;br /&gt;Dasar ilmunya yang pertama di peroleh dari Thus kemudian mengembara ke Naisapur dan belajar berbagai macam ilmu kepada Imam Haramain. Abu al Ma'ali al Juwaini. Dia tekun dan ulet sehingga dalam waktu singkat sudah menguasai banyak ilmu .Bahkan dizaman gurunya masih hidup beliau sudah menjadi rujukan para ulama disamping itu beliau juga telah menyusun suatu karangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangan berikutnya imam Ghozali sempat bertemu perdana Mentri Nizamul muluk dan mendapat penghormatan yang luar biasa darinya. fakta inilah yang mendorong perdana Mentri menyerahkan pengelolaan perguruan tinggi Nizamiahnya,Irak kepada Al Ghozali. peristiwa sejarah yang terjadi pada tahun 480 H ini otomatis semakin mengundang simpati dan rasa kagum penduduk irak sehingga kedudukan Ghozali dimata mereka semakin tinggi.&lt;br /&gt;Kemudian pada thn 488 H Ghozali meninggalkan semua kedudukan dan apa yang diperolehnya selama menjadi kiblat para ulama. Beliau pergi meninggalkan keramaian dan menjalani cara hidup syuhud.&lt;br /&gt;pertama beliau berangkat haji kemudian menuju zam dan menetap beberapa tahun dikota Damaskus. Dikota ini beliau menginap di salah satu sudud kamar dimasjid jami' untuk melakukan kontemplasi merenungkan kembali berbgai macam ilmu yang selama ini dipelajarinya. setelah berjangsung cukup lama beliau pindbg ke Baitul Maqdis dan ditempat baru ini waktunya lebih banyak dihabiskan untuk ibadah dan menziarahi majlis majlis pertemuan kemudian pergi ke mesir dan menetap diiskandariah dalam waktu yang cukup lama sehabis dimesir, beliau kembali kekampung halamanya dan menyendiri dikamar pribadinya dan menyusun berbagai kitab yang bermanfaat dalam berbagai bidang.&lt;br /&gt;Setelah itu beliau kembali lagi ke Naisabur dan mengajar diperguruan Nizamiah. Namun tidak berapa lama, kembali pulang kerumahnya diThus dan membuat satu bilik kecil untuk menjalani hidup sufi. disamping kesibukan satu ini beliau juga masih sempat menyisakan waktunya untuk mengajar. sementara sebagian besar waktunya dibagi untuk melakukan kegiatan mulya,sampai beliau wafat 14 Jumadil Ahir tahun 505.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4878495480096591345-6921200745225686981?l=uwhmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://uwhmaksum.blogspot.com/feeds/6921200745225686981/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4878495480096591345&amp;postID=6921200745225686981' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4878495480096591345/posts/default/6921200745225686981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4878495480096591345/posts/default/6921200745225686981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://uwhmaksum.blogspot.com/2009/12/biografi-imam-ghozali.html' title='BIOGRAFI IMAM GHOZALI'/><author><name>GusMaksum.Com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06399410419983207110</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_1Fy9u8mk4AY/SHDXVTcBPTI/AAAAAAAAAB0/SvZn35TzM9E/S220/IMAGE0001.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4878495480096591345.post-3868203341623712763</id><published>2009-03-30T09:39:00.000-07:00</published><updated>2009-03-30T09:59:25.663-07:00</updated><title type='text'>BISNIS HEBAT, BISNIS HEMAT, BISNIS MERAKYAT</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 204); font-size: 48px; font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size:13.0pt;mso-bidi-font-size: 10.0pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:SV"&gt;BISNIS HEBAT, BISNIS HEMAT, BISNIS MERAKYAT&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:SV"&gt;Di Sponsori oleh : M. Ali Ma’sum,SE&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:SV;font-weight:normal;mso-bidi-font-weight:bold"&gt;Hanya dengan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:SV"&gt; b&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:SV"&gt;iaya pendaftaran Rp.200.000,- untuk HU pertama (Kartu CCI / EC) &amp;amp; Rp.150.000,- untuk penambahan HU (kartu reguler). Anda akan mendapatkan:&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:SV"&gt;1. Hak Keagenan Pulsa&lt;br /&gt;2. Asuransi Kecelakaan&lt;br /&gt;3. Kartu Diskon di lebih dari 5000 Merchant Ternama&lt;br /&gt;4. Content DBS&lt;br /&gt;5. Training &amp;amp; Seminar-seminar Pengembangan Diri&lt;br /&gt;6. Education Pack (Termasuk e-book senilai lebih dari Rp.750.000,-)&lt;br /&gt;7. Program CRP (Customer Refferal Program)&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:SV"&gt;Dengan Anda mereferensikan Program Pulsa Gratis bersama DBS ini kepada rekan Anda, maka Anda akan mendapatkan:&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:SV"&gt;1. Subsidi Sponsor&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:SV"&gt;Subsidi Sponsor didapatkan saat Anda memperkenalkan orang baru untuk direkrut menjadi jaringan Anda. Setiap Anda mendapatkan member / agen baru, Anda akan mendapatkan Rp.20.000. Subsidi Sponsor didapatkan hanya oleh 1 orang yang mengajak (mereferensikan) saja. Upline-upline yang tidak mensponsori tidak mendapatkan Subsidi Sponsor. Semakin banyak orang yang anda sponsori, semakin besar Subsidi Sponsor Anda. Jika Anda mensponsori lebih dari 3 orang, maka anggota yang ke-3 atau selebihnya dapat ditempatkan di bawah anggota 1 atau 2. &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:10.0pt;color:#0000CC"&gt;Contohnya, jika Anda berhasil mengajak si A dan si B, Anda akan mendapatkan Subsidi Sponsor Rp.20.000 x 2 = Rp.40.000. Jika Anda ingin ingin mengajak lebih dari dua orang, misalnya si C, Anda dapat menaruh si C &lt;i&gt;(melalui virtual office atau handphone Anda)&lt;/i&gt; di bawah si A atau si B. Dalam contoh diatas, si C Anda tempatkan dibawah si A. Maka, Anda akan mendapat lagi Subsidi Sponsor sebesar Rp.20.000.-&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:10.0pt;color:#0000CC"&gt;2. Subsidi Pasangan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:SV"&gt;Subsidi Pasangan ini adalah subsidi perkembangan jaringan Anda. Subsidi Pasangan akan Anda dapatkan ketika ada keseimbangan jumlah account anggota di jaringan Anda di kaki sebelah kiri dan kanan, besarnya: Rp.30.000,- ( Rp 22.500 rupiah cash + 7.500 Deposit Pulsa) untuk setiap pasangnya. Jadi bila ada anggota di kaki kiri dan kanan yang bisa dipasangkan Anda akan mendapatkan Subsidi Pasangan. Otomatis program komputer yang akan menghitung ini semua, Anda tidak perlu pusing-pusing untuk menghitungnya. Subsidi Pasangan ini selain subsidi yang terbesar di bisnis ini juga berpotensial sebagai pasif income Anda nantinya jika jaringan Anda sudah berkembang besar. &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:FI"&gt;Khusus untuk &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size:10.0pt; color:#0000CC;mso-ansi-language:SV"&gt;Subsidi Pasangan&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:FI"&gt;, agar perusahaan tidak merugi, perusahaan membatasi &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size:10.0pt; color:#0000CC;mso-ansi-language:SV"&gt;Subsidi Pasangan &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:FI"&gt;setiap harinya. Setiap hari maksimal &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:SV"&gt;Subsidi Pasangan &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size: 10.0pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:FI"&gt;yang dapat Anda terima adalah 12 pasang (Flushout). &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:SV"&gt;Jadi penghasilan Anda per hari maksimal sebesar: 12 pasang x Rp 22.500 = Rp 270.000 dan 12 pasang x Rp 7.500 = Rp 90.000 Deposit Pulsa. &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:10.0pt;color:#0000CC"&gt;Jika lebih, disebut &lt;i&gt;flush out&lt;/i&gt; . Misalnya jika terdapat 13 anggota baru dikaki kiri dan 15 anggota baru dikaki kanan, maka &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size:10.0pt; color:#0000CC;mso-ansi-language:SV"&gt;Subsidi Pasangan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10.0pt;color:#0000CC"&gt; Anda yang seharusnya 13 pasang (ada 2 anggota dikaki kanan yang menunggu dipasangkan dikaki kiri) tetap akan dihitung 12 pasang, 1 pasang sisanya akan masuk ke perusahaan. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:SV"&gt;Jika&lt;i&gt; flush out&lt;/i&gt; terjadi, Anda berkesempatan memperoleh poin untuk mendapatkan &lt;i&gt;reward.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:10.0pt;color:#0000CC"&gt;3. Subsidi Titik&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:SV"&gt;Anda akan mendapatkan Rp.1000 untuk setiap member yang ada di jaringan Anda sampai kedalaman 20 Generasi. Subsidi Titik untuk mengantisipasi apabila jaringan Anda berat sebelah (tidak seimbang) atau hanya 1 kaki yang jalan. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:FI"&gt;Apabila keadaan itu terjadi, maka Anda tidak akan mendapatkan &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:SV"&gt;Subsidi Pasangan &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:FI"&gt;. Maka Subsidi Titik tetap dapat menghidupi Anda. Apabila kedua kaki Anda berupa binary sempurna (seimbang) maka sampai di Generasi ke-20 total anggota di jaringan Anda sebanyak 2.097.150 anggota, berarti Subsidi Titik yang bisa Anda dapatkan Rp. 2.097.150.000.-&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:FI"&gt;Pada kenyataannya, kecil kemungkinan terjadi jaringan Anda betul-betul sempurna, namun jika jumlah anggota Anda 50% dari sempurna saja, berarti Anda akan mendapatkan Subsidi Titik sebesar Rp.1 milliar!! Lebih pahit lagi jika 25% aja dari sempurna, Anda akan mendapatkan Subsidi Titik  sebesar Rp.500juta. Apakah ada Anda akan menolaknya? &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:10.0pt;color:#0000CC"&gt;4. Subsidi Generasi Duplikasi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:10.0pt;color:#0000CC"&gt;Subsidi Generasi / Duplikasi adalah subsidi sebesar Rp.2000,-/ member / Generasi yang Anda dapatkan ketika Generasi I, II, ataupun III di jaringan Anda mendapatkan Subsidi Pasangan sampai kedalaman tak terbatas (karena dibatasi &lt;i&gt;flush out&lt;/i&gt; maka sehari maksimal 12 pasang/anggota di jaringan Anda/Generasi). &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:IT"&gt;Generasi I adalah orang-orang yang Anda sponsori. &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:IT"&gt;Generasi II adalah orang-orang yang disponsori generasi I Anda. &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:IT"&gt;Generasi III adalah orang-orang yang disponsori generasi II Anda. &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:10.0pt;color:#0000CC"&gt;Subsidi ini diberikan sebagai insentif kepada anggota mengingat tidak ada anggota yang memiliki jaringan sempurna (sering kakinya besar sebelah). Jika tadinya Anda tidak mendapatkan subsidi yang besar jika membantu kaki “gajah” Anda (kecuali subsidi titik), maka sekarang setiap ada pertambahan di kaki “gajah” Anda, selama bisa dipasangkan untuk generasi I/II/III, Anda akan mendapatkan subsidi yang besar pula. &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:SV"&gt;Dengan asumsi masing-masing anggota mensponsori 5, dan masing masing dari mereka mensponsori 5 orang sampai generasi III maka potensi penghasilan Anda : &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:SV"&gt;Generasi I : 5 X Rp. 2000,- X 12  = Rp. 120.000,- / hari / HU &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:SV"&gt;Generasi II : 25 X Rp. 2000,- X 12 = Rp. 600.000,- / hari / HU &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:SV"&gt;Generasi III : 125 X Rp. 2000,- X 12 = Rp. 3.000.000,- / hari / HU &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:SV"&gt;Dari perhitungan diatas terlihat potensi Subsidi Generasi Duplikasi Anda adalah &lt;strong&gt;Rp. 3.720.000,-/hari.&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:SV"&gt;5. Royalti Keagenan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:SV"&gt;Subsidi bulanan, yang di dapat dari total pembelian Pulsa Keagenan dari jaringan Anda dari Generasi 1 sampai Generasi 10 sebesar Rp. 10,-/transaksi. Sistem akan mencari secara otomatis Member yang melakukan transaksi sampai 10 Generasi ke bawah. &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" style="mso-cellspacing:0in;margin-left:.75pt;mso-padding-alt:0in 0in 0in 0in"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style="mso-yfti-irow:0;mso-yfti-firstrow:yes;height:30.75pt"&gt;   &lt;td width="61" style="width:45.75pt;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:30.75pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;Generasi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="96" style="width:1.0in;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:30.75pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;Jumlah Agen&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="60" style="width:45.0pt;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:30.75pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;Royalty&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="120" style="width:1.25in;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:30.75pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;Jml transaksi / bln&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="156" style="width:117.0pt;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:30.75pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;Subsidi / bln (Rp)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="mso-yfti-irow:1;height:17.25pt"&gt;   &lt;td width="61" style="width:45.75pt;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="96" style="width:1.0in;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="60" style="width:45.0pt;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;10,-&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="120" style="width:1.25in;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;10&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="156" style="width:117.0pt;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;500,-&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="mso-yfti-irow:2;height:17.25pt"&gt;   &lt;td width="61" style="width:45.75pt;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="96" style="width:1.0in;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;25&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="60" style="width:45.0pt;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;10,-&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="120" style="width:1.25in;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;10&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="156" style="width:117.0pt;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;2.500,-&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="mso-yfti-irow:3;height:17.25pt"&gt;   &lt;td width="61" style="width:45.75pt;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="96" style="width:1.0in;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;125&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="60" style="width:45.0pt;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;10,-&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="120" style="width:1.25in;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;10&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="156" style="width:117.0pt;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;12.500,-&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="mso-yfti-irow:4;height:17.25pt"&gt;   &lt;td width="61" style="width:45.75pt;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="96" style="width:1.0in;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;625&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="60" style="width:45.0pt;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;10,-&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="120" style="width:1.25in;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;10&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="156" style="width:117.0pt;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;62.500,-&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="mso-yfti-irow:5;height:17.25pt"&gt;   &lt;td width="61" style="width:45.75pt;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="96" style="width:1.0in;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;3.125&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="60" style="width:45.0pt;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;10,-&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="120" style="width:1.25in;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;10&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="156" style="width:117.0pt;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;312.500,-&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="mso-yfti-irow:6;height:17.25pt"&gt;   &lt;td width="61" style="width:45.75pt;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;6&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="96" style="width:1.0in;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;15.625&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="60" style="width:45.0pt;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;10,-&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="120" style="width:1.25in;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;10&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="156" style="width:117.0pt;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;1.562.500,-&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="mso-yfti-irow:7;height:17.25pt"&gt;   &lt;td width="61" style="width:45.75pt;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;7&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="96" style="width:1.0in;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;78.125&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="60" style="width:45.0pt;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;10,-&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="120" style="width:1.25in;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;10&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="156" style="width:117.0pt;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;7.812.500,-&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="mso-yfti-irow:8;height:17.25pt"&gt;   &lt;td width="61" style="width:45.75pt;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;8&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="96" style="width:1.0in;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;390.625&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="60" style="width:45.0pt;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;10,-&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="120" style="width:1.25in;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;10&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="156" style="width:117.0pt;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:17.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;39.062.500,-&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="mso-yfti-irow:9;height:21.0pt"&gt;   &lt;td width="61" style="width:45.75pt;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:21.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;9&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="96" style="width:1.0in;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:21.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;1.953.125&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="60" style="width:45.0pt;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:21.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;10,-&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="120" style="width:1.25in;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:21.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;10&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="156" style="width:117.0pt;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:21.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;195.312.500,-&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="mso-yfti-irow:10;height:27.75pt"&gt;   &lt;td width="61" style="width:45.75pt;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:27.75pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;10&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="96" style="width:1.0in;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:27.75pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;9.765.625&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="60" style="width:45.0pt;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:27.75pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;10,-&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="120" style="width:1.25in;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:27.75pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;10&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="156" style="width:117.0pt;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:27.75pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;976.562.500,-&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="mso-yfti-irow:11;mso-yfti-lastrow:yes;height:23.25pt"&gt;   &lt;td width="217" colspan="3" style="width:162.75pt;border:solid black 1.0pt;   border-bottom:solid white 1.5pt;padding:0in 0in 0in 0in;height:23.25pt"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="120" style="width:1.25in;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:23.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;TOTAL&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="156" style="width:117.0pt;border:solid black 1.0pt;padding:0in 0in 0in 0in;   height:23.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="color:#0000CC"&gt;Rp. 1.220.703.000,-&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:FI"&gt;6. Subsidi Reward&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size: 10.0pt;color:#0000CC"&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:10.0pt;color:#0000CC"&gt;Reward akan diberikan kepada anggota yang berprestasi dalam menjalankan bisnis ini. Penilaian &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:SV"&gt;prestasi menggunakan sistem flush out. 1 poin terhitung jika terdapat 13 pasang dalam 1 hari. &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-size:10.0pt;color:#0000CC"&gt;Jenis-Jenis Reward&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/strong&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-size:10.0pt;color:#0000CC"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:10.0pt;color:#0000CC"&gt;1 poin : Polis Asuransi kecelakaan Gratis dengan pertanggungan senilai Rp.10.000.000,-&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:IT"&gt;15 poin : Televisi senilai Rp.1.000.000,- &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:10.0pt;color:#0000CC"&gt;30 poin : Handphone senilai Rp.2.000.000,- &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:10.0pt;color:#0000CC"&gt;75 poin : Laptop senilai Rp.5.000.000,- &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:10.0pt;color:#0000CC"&gt;100 poin  : Infokus (LCD Projector) senilai Rp.6.500.000,- &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:10.0pt;color:#0000CC"&gt;150 poin : Motor Rp. 15.000.000,- &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:10.0pt;color:#0000CC"&gt;400 poin : Program Religi ke tanah suci Rp. 40.000.000,- &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:10.0pt;color:#0000CC"&gt;1000 poin : Mercedes Benz C240 senilai Rp. 500.000.000,- *&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:10.0pt;color:#0000CC"&gt;2000 poin : Rumah Mewah senilai Rp.1.500.000.000,- *&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;strong&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:10.0pt; color:#0000CC;mso-ansi-language:FI"&gt;7. Sharing Internasional&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:FI"&gt;Member dengan pencapaian jumlah tertentu total jaringan kanan-kiri akan mendapatkan gelar khusus yang mendapatkan &lt;i&gt;Passive Income&lt;/i&gt; berupa Sharing Laba Penjualan Pulsa Nasional dengan syarat &amp;amp; ketentuan berlaku. &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top:0in;margin-right:0in;margin-bottom:0in;margin-left:27.35pt; margin-bottom:.0001pt;text-indent:-27.35pt;vertical-align:baseline"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:14.0pt;color:#3E8EA9;mso-ansi-language:FI"&gt;Bronze Enterpreneur : &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:14.0pt; font-family:Chalkboard;color:#3E8EA9;mso-ansi-language:FI"&gt;50% x LPDFI&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:14.0pt;color:#3E8EA9;mso-ansi-language:FI"&gt; 1000:1000 &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:10.0pt;mso-ansi-language:FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top:0in;margin-right:0in;margin-bottom:0in;margin-left:27.35pt; margin-bottom:.0001pt;text-indent:-27.35pt;vertical-align:baseline"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:14.0pt;font-family:Chalkboard;color:#3E8EA9; mso-ansi-language:FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:14.0pt; font-family:Symbol;color:#3E8EA9;mso-ansi-language:FI"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:14.0pt;font-family:Chalkboard;color:#3E8EA9; mso-ansi-language:FI"&gt; BE&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:10.0pt; mso-ansi-language:FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top:0in;margin-right:0in;margin-bottom:0in;margin-left:27.35pt; margin-bottom:.0001pt;text-indent:-27.35pt;vertical-align:baseline"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:14.0pt;font-family:Chalkboard;color:#3E8EA9; mso-ansi-language:FI"&gt;Silver Enterpreneur : &lt;u&gt;33% x LPDFI&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:14.0pt;color:#3E8EA9;mso-ansi-language:FI"&gt; 5000:5000 &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:10.0pt;mso-ansi-language:FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top:0in;margin-right:0in;margin-bottom:0in;margin-left:27.35pt; margin-bottom:.0001pt;text-indent:-27.35pt;vertical-align:baseline"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:14.0pt;font-family:Chalkboard;color:#3E8EA9; mso-ansi-language:FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:14.0pt; font-family:Symbol;color:#3E8EA9;mso-ansi-language:FI"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:14.0pt;font-family:Chalkboard;color:#3E8EA9; mso-ansi-language:FI"&gt; SE&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:10.0pt; mso-ansi-language:FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top:0in;margin-right:0in;margin-bottom:0in;margin-left:27.35pt; margin-bottom:.0001pt;text-indent:-27.35pt;vertical-align:baseline"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:14.0pt;font-family:Chalkboard;color:#3E8EA9; mso-ansi-language:FI"&gt;Gold Enterpreneur : 1&lt;u&gt;7% x LPDFI&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:14.0pt;color:#3E8EA9;mso-ansi-language:FI"&gt; 15000:15000 &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:10.0pt;mso-ansi-language:FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top:0in;margin-right:0in;margin-bottom:0in;margin-left:27.35pt; margin-bottom:.0001pt;text-indent:-27.35pt;vertical-align:baseline"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:14.0pt;font-family:Chalkboard;color:#3E8EA9; mso-ansi-language:FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:14.0pt; font-family:Symbol;color:#3E8EA9;mso-ansi-language:FI"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:14.0pt;font-family:Chalkboard;color:#3E8EA9; mso-ansi-language:FI"&gt; GE&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:10.0pt; mso-ansi-language:FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:FI"&gt; &lt;shape id="_x0000_i1029" style="width: 323.25pt; height: 200.25pt;" type="#_x0000_t75"&gt;&lt;imagedata href="http://www.duta4future.com/uploaded/20071217201458_tgelar.GIF" src="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cacer%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_image008.png"&gt;&lt;/imagedata&gt;&lt;/shape&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:10.0pt;color:black;mso-ansi-language:FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:FI"&gt;Dengan subsidi sharing ini Anda akan mendapatkan Passive Income Murni dengan hanya sedikit kerja cerdas diawal. Fakta membuktikan bahwa untuk meraih Gelar Bronze Entrepreneur hanya dibutuhkan waktu kurang lebih 6 bulan, dengan raihan penghasilan hingga 30juta/bulan dalam kurun waktu singkat.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:FI"&gt;PREDIKSI TERBURUK MENJALANKAN CUST. REFFERAL PROGRAM DFI SELAMA 1 TAHUN:&lt;shape id="_x0000_i1030" style="width: 426pt; height: 357pt;" type="#_x0000_t75"&gt;&lt;/shape&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:FI"&gt; &lt;imagedata href="http://www.duta4future.com/uploaded/20071217203451_resiko.gif" src="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cacer%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_image010.png"&gt;&lt;/imagedata&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:FI"&gt;Misalkan Anda hanya ingin memperkenalkan bisnis ini di bulan pertama saja, selanjutnya Anda hanya ingin membantu anggota baru Anda saja. Dari ratusan orang yang telah Anda kenal, hanya dua orang saja yang Anda ajak ke dalam bisnis ini. Di bulan berikutnya, kedua anggota Anda tersebut juga hanya bisa mengajak masing-masing dua orang, sehingga di bulan kedua terdapat 4 anggota baru di jaringan Anda. Proses ini berlangsung sama (ter-duplikasi) ke seluruh jaringan Anda, yaitu masing-masing anggota baru hanya mengajak 2 orang di bulan pertama, selanjutnya hanya membantu anggota baru di masing-masing jaringannya untuk mendapatkan dua orang, begitu seterusnya.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:10.0pt;color:#0000CC"&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:FI"&gt;Maka jika Anda menjalankan bisnis ini selama 1 tahun atau 12 bulan, jumlah anggota dan subsidi pasangan baru di jaringan Anda: &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div align="center"&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="445" style="width:333.55pt;margin-left:4.4pt;border-collapse:collapse;mso-padding-alt:  0in 0in 0in 0in"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style="mso-yfti-irow:0;mso-yfti-firstrow:yes;height:26.25pt"&gt;   &lt;td width="63" style="width:47.0pt;border:solid windowtext 1.0pt;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;   height:26.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size:7.5pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:IT"&gt;Bulan ke-&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="94" style="width:70.65pt;border:solid windowtext 1.0pt;border-left:   none;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:26.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size:7.5pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:IT"&gt;Anggota   Baru&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="146" style="width:109.75pt;border:solid windowtext 1.0pt;border-left:   none;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:26.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size:7.5pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:IT"&gt;Subsidi   Pasangan Cash&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="142" style="width:106.15pt;border:solid windowtext 1.0pt;border-left:   none;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:26.25pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size:7.5pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:IT"&gt;Subsidi Pasangan   Pulsa&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="mso-yfti-irow:1;height:15.0pt"&gt;   &lt;td width="63" style="width:47.0pt;border-top:none;border-left:solid windowtext 1.0pt;   border-bottom:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;   height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size:7.5pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:IT"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="94" style="width:70.65pt;border:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size:7.5pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:IT"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="146" style="width:109.75pt;border:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size:7.5pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:IT"&gt;Rp 22,500&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="142" style="width:106.15pt;border:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size:7.5pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:IT"&gt;7,500&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="mso-yfti-irow:2;height:15.0pt"&gt;   &lt;td width="63" style="width:47.0pt;border-top:none;border-left:solid windowtext 1.0pt;   border-bottom:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;   height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size:7.5pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:IT"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="94" style="width:70.65pt;border:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size:7.5pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:IT"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="146" style="width:109.75pt;border:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size:7.5pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:IT"&gt;Rp 45,000&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="142" style="width:106.15pt;border:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size:7.5pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:IT"&gt;15,000&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="mso-yfti-irow:3;height:15.0pt"&gt;   &lt;td width="63" style="width:47.0pt;border-top:none;border-left:solid windowtext 1.0pt;   border-bottom:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;   height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size:7.5pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:IT"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="94" style="width:70.65pt;border:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size:7.5pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:IT"&gt;8&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="146" style="width:109.75pt;border:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size:7.5pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:IT"&gt;Rp 90,000&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="142" style="width:106.15pt;border:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size:7.5pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:IT"&gt;30,000&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="mso-yfti-irow:4;height:15.0pt"&gt;   &lt;td width="63" style="width:47.0pt;border-top:none;border-left:solid windowtext 1.0pt;   border-bottom:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;   height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size:7.5pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:IT"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="94" style="width:70.65pt;border:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size:7.5pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:IT"&gt;16&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="146" style="width:109.75pt;border:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size:7.5pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:IT"&gt;Rp 180,000&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="142" style="width:106.15pt;border:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size:7.5pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:IT"&gt;60,000&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="mso-yfti-irow:5;height:15.0pt"&gt;   &lt;td width="63" style="width:47.0pt;border-top:none;border-left:solid windowtext 1.0pt;   border-bottom:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;   height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size:7.5pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:IT"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="94" style="width:70.65pt;border:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size:7.5pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:IT"&gt;32&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="146" style="width:109.75pt;border:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size:7.5pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:IT"&gt;Rp 360,000&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="142" style="width:106.15pt;border:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size:7.5pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:IT"&gt;120,000&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="mso-yfti-irow:6;height:15.0pt"&gt;   &lt;td width="63" style="width:47.0pt;border-top:none;border-left:solid windowtext 1.0pt;   border-bottom:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;   height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size:7.5pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:IT"&gt;6&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="94" style="width:70.65pt;border:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size:7.5pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:IT"&gt;64&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="146" style="width:109.75pt;border:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size:7.5pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:IT"&gt;Rp 720,000&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="142" style="width:106.15pt;border:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size:7.5pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:IT"&gt;240,000&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="mso-yfti-irow:7;height:15.0pt"&gt;   &lt;td width="63" style="width:47.0pt;border-top:none;border-left:solid windowtext 1.0pt;   border-bottom:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;   height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size:7.5pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:IT"&gt;7&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="94" style="width:70.65pt;border:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size:7.5pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:IT"&gt;128&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="146" style="width:109.75pt;border:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size:7.5pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:IT"&gt;Rp 1,440,000&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="142" style="width:106.15pt;border:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-size:7.5pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:IT"&gt;480,000&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="mso-yfti-irow:8;height:15.0pt"&gt;   &lt;td width="63" style="width:47.0pt;border-top:none;border-left:solid windowtext 1.0pt;   border-bottom:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;   height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="font-size:7.5pt;color:#0000CC"&gt;8&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="94" style="width:70.65pt;border:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="font-size:7.5pt;color:#0000CC"&gt;256&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="146" style="width:109.75pt;border:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="font-size:7.5pt;color:#0000CC"&gt;Rp 2,880,000&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="142" style="width:106.15pt;border:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="font-size:7.5pt;color:#0000CC"&gt;960,000&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="mso-yfti-irow:9;height:15.0pt"&gt;   &lt;td width="63" style="width:47.0pt;border-top:none;border-left:solid windowtext 1.0pt;   border-bottom:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;   height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="font-size:7.5pt;color:#0000CC"&gt;9&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="94" style="width:70.65pt;border:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="font-size:7.5pt;color:#0000CC"&gt;512&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="146" style="width:109.75pt;border:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="font-size:7.5pt;color:#0000CC"&gt;Rp 5,760,000&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="142" style="width:106.15pt;border:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="font-size:7.5pt;color:#0000CC"&gt;1,920,000&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="mso-yfti-irow:10;height:15.0pt"&gt;   &lt;td width="63" style="width:47.0pt;border-top:none;border-left:solid windowtext 1.0pt;   border-bottom:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;   height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="font-size:7.5pt;color:#0000CC"&gt;10&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="94" style="width:70.65pt;border:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="font-size:7.5pt;color:#0000CC"&gt;1024&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="146" style="width:109.75pt;border:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="font-size:7.5pt;color:#0000CC"&gt;Rp 11,520,000&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="142" style="width:106.15pt;border:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="font-size:7.5pt;color:#0000CC"&gt;3,840,000&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="mso-yfti-irow:11;height:15.0pt"&gt;   &lt;td width="63" style="width:47.0pt;border-top:none;border-left:solid windowtext 1.0pt;   border-bottom:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;   height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="font-size:7.5pt;color:#0000CC"&gt;11&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="94" style="width:70.65pt;border:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="font-size:7.5pt;color:#0000CC"&gt;2048&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="146" style="width:109.75pt;border:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="font-size:7.5pt;color:#0000CC"&gt;Rp 23,040,000&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="142" style="width:106.15pt;border:none;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.0pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="font-size:7.5pt;color:#0000CC"&gt;7,680,000&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="mso-yfti-irow:12;height:15.75pt"&gt;   &lt;td width="63" style="width:47.0pt;border:solid windowtext 1.0pt;border-top:   none;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.75pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="font-size:7.5pt;color:#0000CC"&gt;12&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="94" style="width:70.65pt;border-top:none;border-left:none;   border-bottom:solid windowtext 1.0pt;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.75pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="font-size:7.5pt;color:#0000CC"&gt;4096&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="146" style="width:109.75pt;border-top:none;border-left:none;   border-bottom:solid windowtext 1.0pt;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.75pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="font-size:7.5pt;color:#0000CC"&gt;Rp 46,080,000&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="142" style="width:106.15pt;border-top:none;border-left:none;   border-bottom:solid windowtext 1.0pt;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.75pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;span style="font-size:7.5pt;color:#0000CC"&gt;15,360,000&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="mso-yfti-irow:13;mso-yfti-lastrow:yes;height:15.75pt"&gt;   &lt;td width="63" nowrap="" style="width:47.0pt;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;   height:15.75pt"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:7.5pt;color:#0000CC"&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="94" nowrap="" style="width:70.65pt;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;   height:15.75pt"&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:7.5pt;color:#0000CC"&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="146" nowrap="" style="width:109.75pt;border:solid windowtext 1.0pt;   border-top:none;padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.75pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:7.5pt;color:#0000CC"&gt;Rp 92,137,500&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td width="142" nowrap="" style="width:106.15pt;border-top:none;border-left:none;   border-bottom:solid windowtext 1.0pt;border-right:solid windowtext 1.0pt;   padding:0in 5.4pt 0in 5.4pt;height:15.75pt"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:7.5pt;color:#0000CC"&gt;30,712,500&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:7.5pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:7.5pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:FI"&gt;&lt;shape id="_x0000_i1031" style="width: 429pt; height: 240pt;" type="#_x0000_t75"&gt;&lt;imagedata href="http://www.duta4future.com/uploaded/20071217203634_lipat.gif" src="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cacer%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_image012.png"&gt;&lt;/imagedata&gt;&lt;/shape&gt;INDEX MUDHOROBAH (Sistem Bagi-Hasil)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size: 10.0pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:FI"&gt;PT DUTA FUTURE INTERNATIONAL menggunakan sistem &lt;i&gt;index mudhorobah&lt;/i&gt; secara TRANSPARAN untuk pembayaran subsidi kepada member-membernya berdasarkan omset / pemasukan yang perusahaan terima setiap hari. Subsidi setiap member yang akan dikirim ke rekening terlebih dahulu besarnya dikalikan dengan index tersebut. Sistem ini menjamin perusahaan tidak dapat merugi sehingga kokoh bertahan lama &amp;amp; kelangsungan pembayaran subsidi untuk member terjamin. &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:FI"&gt;Rumus yang dipakai:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC;mso-ansi-language:FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:FI"&gt; &lt;u&gt;OMZET PERUSAHAAN - BIAYA OPERASIONAL&lt;/u&gt;   = INDEX MUDHOROBAH&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:FI"&gt; SUBSIDI YANG DIBAGIKAN &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:10.0pt;color:#0000CC; mso-ansi-language:FI"&gt;Saat ini index berada dikisaran nilai 0,9. Misalkan subsidi Anda yang tertera di &lt;i&gt;virtual office&lt;/i&gt; Rp.1.000.000,-. Maka subsidi yang Anda terima sebesar Rp.1.000.000,- x 0,9 = Rp.900.000,- &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:13.5pt; color:#0000CC"&gt;SALAM DAHSYAT!!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:13.5pt; color:#0000CC"&gt;SEGERA HUBUNGI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:13.5pt; color:#0000CC"&gt;M. ALI MA’SUM, SE (08995940691)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:13.5pt; color:#0000CC"&gt;KAMPUS UNWAHAS &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;SEMARANG&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:13.5pt; color:#0000CC"&gt;AND&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:13.5pt; color:#0000CC"&gt;KOPERASI BMT MUAMALAT &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:13.5pt; color:#0000CC"&gt;WAHID HASYIM &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;SEMARANG&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4878495480096591345-3868203341623712763?l=uwhmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://uwhmaksum.blogspot.com/feeds/3868203341623712763/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4878495480096591345&amp;postID=3868203341623712763' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4878495480096591345/posts/default/3868203341623712763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4878495480096591345/posts/default/3868203341623712763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://uwhmaksum.blogspot.com/2009/03/bisnis-hebat-bisnis-hemat-bisnis.html' title='BISNIS HEBAT, BISNIS HEMAT, BISNIS MERAKYAT'/><author><name>GusMaksum.Com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06399410419983207110</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_1Fy9u8mk4AY/SHDXVTcBPTI/AAAAAAAAAB0/SvZn35TzM9E/S220/IMAGE0001.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4878495480096591345.post-6734447032983776397</id><published>2009-03-03T08:44:00.000-08:00</published><updated>2009-03-03T08:46:24.699-08:00</updated><title type='text'>UNWAHAS PUNYA YANG BARU</title><content type='html'>Prof Rofiq, Rektor Universitas Wahid Hasyim Jumat, 21 November 2008 12:01 Semarang, NU OnlineProf Dr Ahmad Rofiq MA terpilih sebagai rektor Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, menggantikan Noor Ahmad yang telah menjabat selama 2 periode. Dosen Pascasarjana IAIN Walisongo Semarang itu, telah resmi dilantik sebagai Rektor Unwahas pada 17 November lalu. Unwahas Semarang adalah salah satu perguruan tinggi Islam yang berada di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU), yang kian hari kian melesat dan berkembang. Perkembangan tersebut terlihat dari jumlah jurusan serta fakultas yang kian bertambah. Tiap tahun, minat masyarakat yang belajar juga kian bertambah.Apa yang akan dilakukan oleh rektor Unwahas yang baru? Kepada kontributor NU Online Rosidi, Prof Rofiq menyatakan ”akan membangun mimpi”. Mimpi yang dimaksudnya adalah menjadikan Unwahas sebagai perguruan tinggi yang berkualitas dan kompetitif.Untuk mewujudkan mimpinya itu, dia akan melakukan peningkatan kinerja mulai dari tenaga administrasi hingga tenaga pengajar (Dosen). “Untuk dosen, saya akan berusaha agar mereka bisa melakukan studi lanjut, yang nantinya akan sangat bermanfaat guna mendukung Unwahas menuju perguruan tinggi yang berkualitas dan kompetitif,” katanya optimis. Namun begitu, tambah rektor yang telah melakukan wisuda mahasiswa di hari ketiga menjabat sebagai rektor, dia akan tetap menjaga fitrah Unwahas.“Unwahas adalah sebuah penggabungan antara dunia pesantren dan akademik. Pemahaman akan ke-NU-an akan tetap dijunjung tinggi, tanpa melupakan ilmu pengetahuan yang terus berkembang,” katanyaProf Rofiq kini juga menjadab sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah. Sebelum bergiat di perguruan tinggi, ia mengenyam pendidikan agama di Madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyyah (TBS) Kudus yang kini berada di bawah naungan Yayasan Arwaniyyah. (nam)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4878495480096591345-6734447032983776397?l=uwhmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://uwhmaksum.blogspot.com/feeds/6734447032983776397/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4878495480096591345&amp;postID=6734447032983776397' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4878495480096591345/posts/default/6734447032983776397'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4878495480096591345/posts/default/6734447032983776397'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://uwhmaksum.blogspot.com/2009/03/unwahas-punya-yang-baru.html' title='UNWAHAS PUNYA YANG BARU'/><author><name>GusMaksum.Com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06399410419983207110</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_1Fy9u8mk4AY/SHDXVTcBPTI/AAAAAAAAAB0/SvZn35TzM9E/S220/IMAGE0001.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4878495480096591345.post-5732851870767077040</id><published>2008-07-22T01:47:00.000-07:00</published><updated>2008-07-22T01:50:16.874-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span class=""&gt;&lt;br /&gt;BIOGRAFI SANG PENULIS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pada hari jum'at kliwon tanggal 22 februari tahun 1985 telah dilahirkan seorang bayi mungil nan tampan, dengan membawa sejumlah harapan-harapan besar menjadi orang yang berguna/bermanfaat.&lt;br /&gt;Al kisah, bayi mungil tersebut beranjak dewasa menjadi pemuda yang sangat tampan dan rupawan. melihat anaknya sudah semakin dewasa, sang Bapak mengarahkan anaknya untuk MONDOK (waktu itu di Sarang/Langitan) tetapi sang anak menolak dengan dalih mau melanjutkan KULIAH. Sang Bapak membujuk agar anaknya mondok saja. tetapi sang anak tetap saja MENOLAK.&lt;br /&gt;Al hasil, suatu ketika sang anak menemukan secarik kertas koran (saat itu ada dibawah kursi). Sebelum kertas itu dibuang dia sempat membaca kata per kata, kalimat per kalimat. Dalam salah satu tulisan menyebut kalimat yang waktu itu dilontarkan oleh PR II Bpk. DR.Ir. Nugroho Widyasmadi,M.Eng " di UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG, terdapat juga PONDOK PESANTREN MAHASISWA" akhirnya hal itu menjadi inspirasi bagi sang anak untuk menggabungkan pendapatnya dengan pendapat Bapaknya.&lt;br /&gt;Ketika disampaikan kepada bapaknya, bapaknya sempat menolak karena masalah biaya (Bapaknya hanya seorang tambal Ban Sepeda Onthel). Namun karena melihat semangat anaknya akhirnya beliau mengiyakan. Akhirnya sang anak dapat kuliah sambil menjadi santri di sebuah pondok Pesantren yang bernama "PONDOK PESANTREN LUHUR WAHID HASYIM SEMARANG".&lt;br /&gt;Waktu terus berjalan, namun apa yang ditakutkan oleh bapak tersebut (Biaya) dapat diatasi. karena disamping sang anak sering dapat beasiswa dari kampus, sang anak juga dapat penghasilan dari aktifitas mengajar privat dan Muadzin Masjid Nurul Ulum UWH serta job-job lain seperti Qori'. Aktifitas lain yang digeluti antara lain: BEM FE, RACANA UNWAHAS, Pengurus PPLWH, PC IPNU Kota Semarang, FOSSEI, PMII dll.&lt;br /&gt;Banyak prestasi yang diraih semenjak di Universitas Wahid Hasyim, seperti juara III LKTM dalam "The First Senior Rovers Scout Creativity" se jawa tengah. juga pernah menjadi kontingen UNWAHAS dalam lomba Musabaqoh Tilawatil Qur'an Mahasiswa Se Jawa Tengah (Di UNSIQ Wonosobo.&lt;br /&gt;Saat ini pemuda tersebut telah menyelesaikan Studi SI Fakultas Ekonomi Progdi Manajemen Universitas Wahid Hasyim yang dirampungkannya selama 3.5 tahun dengan IPK terakhir 3,35. setelah lulus diterima di sebuah perusahaan mebel di daerah Pucakwangi Pati, kemudian di tarik di Universitas Wahid Hasyim untuk mengurusi Koperasi BMT Muamalat Wahid Hasyim Semarang. sebuah koperasi yang didirikan oleh Yayasan Wahid Hasyim Semarang untuk mengatasi masalah pendanaan dan permodalan baik dilingkungan UNWAHAS sendiri maupun yang lain.&lt;br /&gt;Bayi mungil dan Pemuda tersebut tak lain adalah M. ALI MA'SUM (sang penulis)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4878495480096591345-5732851870767077040?l=uwhmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://uwhmaksum.blogspot.com/feeds/5732851870767077040/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4878495480096591345&amp;postID=5732851870767077040' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4878495480096591345/posts/default/5732851870767077040'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4878495480096591345/posts/default/5732851870767077040'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://uwhmaksum.blogspot.com/2008/07/biografi-sang-penulis-tepat-pada-hari.html' title=''/><author><name>GusMaksum.Com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06399410419983207110</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_1Fy9u8mk4AY/SHDXVTcBPTI/AAAAAAAAAB0/SvZn35TzM9E/S220/IMAGE0001.JPG'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4878495480096591345.post-3594166984741184907</id><published>2008-06-10T08:32:00.000-07:00</published><updated>2008-06-10T08:39:49.390-07:00</updated><title type='text'>SEJARAH LAHIRNYA UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Sebelumnya kami sengaja menulis posting tentang sejarah lahirnya Universitas Wahid Hasyim Semarang sebagai wujud bhakti terhadap universitas tercinta ini. Posting ini kami tujukan untuk seluruh sivitas akademika universitas wahid hasyim dan orang-orang yang ingin mengetahui kelahiran universitas milik Nahdlatul Ulama ini.&lt;br /&gt;Di dalam Anggaran Dasar Nahdlatul Ulama Bab IV pasal 6 ditetapkan bahwa dalam upaya mencapai tujuan Nahdlatul Ulama salah satu usahanya adalah dibidang pendidikan, pengajaran dan kebudayaan. Untuk terwujudnya penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran serta mengembangkan kebudayaan yang sesuai dengan ajaran islam, sehingga mampu membina dan mengembangkan manusia muslim yang bertaqwa, berbudi luhur, berpengetahuan luas dan terampil, serta berguna bagi agama, bangsa dan Negara, perlu dilakukan melalui penyelenggaraan pendidikan tinggi. Keputusan ini ternyata sudah diamanatkan dalam setiap muktamar NU maupun konferensi-konferensi wilayah yang dituangkan dalam setiap program kerjanya.&lt;br /&gt;Untuk merealisasikan amanat tersebut, pada tanggal 7 Mei 1999 di Semarang didirikanlah Yayasan Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama Jawa Tengah yang disahkan dengan Akte Notaris Tri Joko Subandrio, SH nomor 13 Tahun 1999 tertanggal 7 Mei 1999, dengan susunan pengurus sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua : Drs. KH. Syamsudin Anwar (Alm)&lt;br /&gt;Wk. Ketua : Drs. H. Achmad&lt;br /&gt;Wk. Ketua : Drs. H. Ali Mufiz, MPA&lt;br /&gt;Wk. Ketua : Drs. HM. Chabib Thoha, MA&lt;br /&gt;Wk. Ketua : Drs. HM. Hoesein Moenawar&lt;br /&gt;Sekretaris : Drs. H. Mudzakkir Ali, MA&lt;br /&gt;Wk. Sekretaris : H. Hanief Ismail, LC&lt;br /&gt;Bendahara : Drs. HA. Fatah Dahlan&lt;br /&gt;Wk. Bendahara : Drs. HA. Sjirozi Zuhdi&lt;br /&gt;Anggota : Ir. Djoko Wahjudi&lt;br /&gt;Anggota : H. Imam Syafi’i&lt;br /&gt;Anggota : H. Soewanto&lt;br /&gt;Anggota : H. Gautama Setiadi&lt;br /&gt;Anggota : KH. Chanief Muslih, LC&lt;br /&gt;Anggota : Drs. HM Aminuddin Sanwar&lt;br /&gt;Anggota : Mahmutarom HR, SH, MH&lt;br /&gt;Anggota : Tri Setioadi, SH, CN&lt;br /&gt;Anggota : Drs. H. Satriyan Abd Rahman&lt;br /&gt;Anggota : Drs. H. Amjad, Al Hafidh, BSc.&lt;br /&gt;Yayasan tersebut melakukan persiapan untuk berdirinya sebuah perguruan tinggi dan langkah awal disepakati pendirian Politeknik Nahdlatul Ulama yang selanjutnya dikembangkan menjadi sebuah universitas NU.&lt;br /&gt;Pada tanggal 11 Mei 1999, Ketua PWNU Jawa Tengah Drs. H. Ahmad menugaskan ketua LP Maarif NU Jawa Tengah Drs. HM. Chabib Thoha, MA dan Drs. Mudzakkir Ali, MA sebagai sekretaris Yayasan untuk berkonsultasi kepada Ketua Umum PBNU, KH. Abdurrahman Wahid di Jakarta tentang rencana pendirian Politeknik NU. Hasil konsultasi Ketua Umum PBNU justru memerintahkan untuk mendirikan Universitas dan membuat proposal untuk kepentingan tersebut.&lt;br /&gt;Pada tanggal 12 Juli 1999 ketua YPTNU Drs. KH. Syamsuddin Anwar beserta sekretaris YPTNU dan Wakil Ketua Panitia Pendiri, berkonsultasi kepada Ketua Umum PBNU yang menggariskan hal-hal sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. untuk nama universitas, jangan memakai nama islam atau NU, tetapi jadikanlah islam dan NU sebagai ruhnya.&lt;br /&gt;2. nama yang tepat bagi universitas tersebut, diperintahkan untuk berkonsultasi dengan para ulama dan tawasul kepada Almarhum KH Sholeh Darat.&lt;br /&gt;3. perlu diatur ketegasan hubungan hirarki antara Universitas dan Yayasannya dengan NU baik PWNU maupun PBNU yang tertuang dalam akta notaries. Meskipun tetap mengindahkan kemandirian Yayasan dalam pengelolaan universitas&lt;br /&gt;4. ketua Umum PBNU menyanggupi mencarikan dana untuk pengadaan lahan seluas 10-20 ha dan pembangunan Gedung Rektorat, satu gedung perkuliahan serta dana operasional awal sebagai persyaratan pendirian.&lt;br /&gt;5. awal perkuliahan disetujui dibuka pada tahun akademik 2000/2001&lt;br /&gt;6. untuk pengaturan teknis selanjutnya ditugaskan ketua PBNU, Fajrul Falakh, SH, MH, MSc, sebagai konsultan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelah Pengurus Yayasan dan Panitia Pendiri berkonsultasi dengan Ketua Umum PBNU tersebut, maka diambil langkah-langkah sbb:&lt;br /&gt;1. melalui beberapa kali wasilah dan musyawarah mengenai nama Universitas antara lain Universitas Nusantara, Universitas Duta Bangsa, Universitas Kebangsaan dan Universitas Wahid Hasyim. Akhirnya disepakati nama Universitas Wahid Hasyim, dengan pertimbangan beliau adalah salah seorang Pendiri Republik Indonesia, Tokoh Agama dari kalangan NU yang Nasionalis. Nama tersebut disetujui oleh PBNU pada konsultasi pada tanggal 6 Agustus 1999&lt;br /&gt;2. mengenai hubungan hirarki Universitas / Yayasan dengan PWNU dan PBNU, dilakukan penyempurnaan terhadap Akta Notaris yang dituangkan dalam Akta No. 56 Tahun 1999 tanggal 9 Nopember 1999.&lt;br /&gt;Sambil menyempurnakan organisasi yayasan, maka yayasan dan panitia pendiri Universitas Wahid Hasyim mengajukan permohonan pendirian Universitas ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional melalui Kopertis Wilayah VI, dengan surat nomor : YPTNU-09/VIII/1999 tanggal 7 Agustus 1999 tentang Mohon Persetujuan pembukaan Program Studi Baru. Adapun program studi yang diajukan meliputu 10 program, yaitu :&lt;br /&gt;1. Program Studi Manajemen (S1)&lt;br /&gt;2. Program Studi Akutansi (D3)&lt;br /&gt;3. Program Studi Perpajakan (D3)&lt;br /&gt;4. Program Studi Komunikasi (D3)&lt;br /&gt;5. Program Studi Teknik Informatika (S1)&lt;br /&gt;6. Program Studi Teknik Komputer (D3)&lt;br /&gt;7. Program Studi Teknik Sipil (D3)&lt;br /&gt;8. Program Studi Agrobisnis (D3)&lt;br /&gt;9. Program Studi Produksi dan Teknologi Pakan Ternak (D3)&lt;br /&gt;10. Program Studi Farmasi (S1)&lt;br /&gt;Untuk memantapkan rencana pembukaan program studi tersebut, Pengurus Yayasan dan Panitia Pendiri yang terdiri KH. Drs. Syamsuddin Anwar, Drs. Mudzakkir Ali, MA dan Drs. H. Noor Achmad, MA berkonsultasi dengan Kopertis Wilayah VI yang menghasilkan persetujuan rencana fakultas dengan 10 program studi sebagai berikut :&lt;br /&gt;Fakultas Ekonomi : a. Program Studi Manajemen (S1)&lt;br /&gt;b. Program Studi Akuntansi (S1)&lt;br /&gt;Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik :&lt;br /&gt;a. Program Studi Ilmu Politik (S1)&lt;br /&gt;b. Program Studi Ilmu Hubungan Internasional (S1)&lt;br /&gt;Fakultas Teknik : a. Program Studi Teknik Mesi (S1)&lt;br /&gt;b. Program StudiTeknik Mesin (S1)&lt;br /&gt;c. Program Studi Teknik Elektronika (DIII)&lt;br /&gt;Fakultas Pertanian :a. Program Studi Agrobisnis (S1)&lt;br /&gt;b. Program Studi Produksi dan Teknologi Pakan Ternak (DIII)&lt;br /&gt;Fakultas Farmasi : Program Studi Farmasi (S1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan surat yayasan nomor : YPTNU-24/U/IX/1999 tanggal 23 September 1999 tentang mohon persetujuan pendirian program studi baru, Alhamdulillah 10 program studi sebagaimana tersebut diatas mendapat persetujuan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdikbud, berdasarkan surat Dirjen Dikti nomor : 1888/D4.II/T/12/1999 tanggal 30 Nopember 1999 tentang pertimbangan untuk pendirian Universitas Wahid Hasyim di Semarang.&lt;br /&gt;Setelah 10 program studi mendapatkan persetujuan DIKTI, dengan surat nomor : 4699/006.2/AKI/1999 tanggal 27 Desember 1999 tentang pendirian Universitas Wahid Hasyim di Semarang, maka kopertis wilayah VI meminta kelengkapan syarat pendirian Universitas Wahid Hasyim Semarang.&lt;br /&gt;Setelah syarat-syarat lengkap, kemudian kopertis meninjau beserta tim pakar setiap program studi. Berdasarkan presentasi, evaluasi dan verifikasi tim pakar Alhamdulillah pada tanggal 26 juli 2000, semua tim pakar menyetuji dan memberi ketetapan kelayakan laborat pada semua program studi.&lt;br /&gt;Akhirnya pada tanggal 8 Agustus 2000, Mendiknas melalui Dirjen Dikti mengeluarkan ijin pendirian dengan nomor : 124/D/O/2000 tentng pendirian Universitas Wahid Hasyim Semarang.&lt;br /&gt;Setelah 10 program studi mendapat ijin, sebagai universitas yang salah satunya mengemban misi agama, maka Yayasan dan Panitia Pendiri mengajukan permohonan membuka Fakultas Agama dengan progdi Pendidikan Agama Islam dan Muamalat kepada Menteri Agama dengan Republik Indonesia melalui kopertais Wilayah X Jawa Tengah. Dengan telah diterimanya surat ijin dari Pemerintah Republik Indonesia (Dirjen Dikti dan Kopertais Wilayah X Jawa Tengah ) maka mulai tahun Akademik 2000-2001, Universitas Wahid Hasyim secara resmi melakukan kegiatan operasionalnya sebagai sebuah lembaga pendidikan tinggi baru.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4878495480096591345-3594166984741184907?l=uwhmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://uwhmaksum.blogspot.com/feeds/3594166984741184907/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4878495480096591345&amp;postID=3594166984741184907' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4878495480096591345/posts/default/3594166984741184907'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4878495480096591345/posts/default/3594166984741184907'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://uwhmaksum.blogspot.com/2008/06/sejarah-lahirnya-universitas-wahid.html' title='SEJARAH LAHIRNYA UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG'/><author><name>GusMaksum.Com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06399410419983207110</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_1Fy9u8mk4AY/SHDXVTcBPTI/AAAAAAAAAB0/SvZn35TzM9E/S220/IMAGE0001.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4878495480096591345.post-4510657280230244838</id><published>2008-05-29T21:12:00.000-07:00</published><updated>2008-05-29T21:12:02.359-07:00</updated><title type='text'>KH. Wahid Hasyim</title><content type='html'>Sewaktu terjadi perombakan kabinet dan nama Wahid Hasyim tidak tercantum lagi dalam daftar nama anggota kabinet baru, beberapa orang tampak kecewa. Padahal yang bersangkutan cuek saja. Ketika mereka bertemu dengan KH. Abdul Wahid Hasyim, kekecewaan itu langsung ditumpahkan kepadanya.&lt;br /&gt;"Kami merasa kecewa karena Gus Wahid tidak duduk lagi di kabinet," kata H. Azhari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak usah kecewa. Saya toh masih bisa duduk di rumah. Saya mempunyai banyak kursi dan bangku panjang. Tinggal pilih saja," jawab KH. Abdul Wahid Hasyim sekenanya sehingga mengundang tawa yang hadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi kami tetap menyesal karena pemimpin kita tidak dipakai oleh pemerintah...," ujar H. Ichwan. "Kalau tidak dipakai oleh negara, biarlah saya pakai sendiri...," sekali lagi KH. Abdul Wahid Hasyim menjawab dengan santai dan penuh humor. Suara tawa kembali meledak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa ya, menjadi menteri kok cuma sebentar?" tanya H. Azhari masih penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho, kalau kita mengantarkan jenazah ke kuburan, pembaca talqin itu kan selalu mengingatkan kita, "Wa mal hayatud-dunya illa mata'ul ghurur"[1]. Memangnya orang menjadi menteri untuk selamanya?" jawab KH. Abdul Wahid Hasyim. Kali ini dengan nada sedikit serius, menggunakan i'tibar yang pas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1939 NU masuk menjadi anggota MIAI (Majelis Islam A'la Indonesia), sebuah badan federasi partai dan ormas Islam. Setelah masuknya NU ke dalam federasi ini, dilakukan reorganisasi dan saat itulah KH. Abdul Wahid Hasyim, wakil NU terpilih menjadi ketua MIAI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selaku pimpinan Masyumi, Wahid Hasyim merintis pembentukan Hizbullah sebagai sayap "militer" yang membantu perjuangan umat Islam mewujudkan kemerdekaan. Rencana pembentukan Hizbullah semula hampir urung. Banyak pihak yang mencurigai kehadirannya dalam membantu Perang Asia Timur Raya. Tapi KH. Abdul Wahid Hasyim, atas nama pimpinan Masyumi waktu itu, terus gigih memperjuangkan pembentukan Hizbullah hingga akhirnya berhasil.&lt;br /&gt;Ketika Jepang masuk, KH. Abdul Wahid Hasyim ditunjuk menjadi Ketua Majelis Syuro Muslimin Indonesia. Selain mengadakan gerakan politik di kalangan umat Islam, melalui Majelis ini Wahid Hasyim juga mengembangkan pendidikan di kalangan umat Islam. Tahun 1944 dia mendirikan Sekolah Tinggi Islam di Jakarta yang pengasuhannya ditangani oleh KH. A. Kahar Muzakkir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatiannya kepada dunia pendidikan sangat besar. Sewaktu menjadi Menteri Agama pada tahun 1950 Wahid Hasyim mengeluarkan peraturan berdirinya Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang kini menjadi IAIN itu.&lt;br /&gt;Dalam sebuah kesempatan pidato di depan majelis pengajian NU di Banyumas, KH. Abdul Wahid menceritakan ihwal keluarnya KH. Hasyim Asy'ari dari tahanan Jepang. Menurut Abdul Wahid, banyak orang dengki dan tukang fitnah berusaha menyusahkan NU dan menyengsarakan Hadhratusysyaikh. Karena Allah menghendaki lain, maka sia-sialah usaha mereka. Malahan kini, sekeluarnya Hadhratusysyaikh dari tahanan, beliau diberi kompensasi oleh Pemerintah Jepang untuk menjabat Shumubucho, Kepala Jawatan Agama Pusat. Ini merupakan kompensasi Jepang yang waktu itu merasa kedudukannya makin terdesak dan merasa salah langkah menghadapi umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapat tawaran itu KH. Hasyim Asy'ari menerima dengan catatan, mengingat usia yang sudah uzur dan dia harus mengasuh pesantren sehingga tidak mungkin kalau harus bolak-balik Jakarta-Jombang. Karena kondisi ini, dia mengusulkan agar tugasnya sebagai Shumubucho diserahkan kepada Abdul Wahid Hasyim, puteranya.&lt;br /&gt;Taktik ini sengaja dilakukan KH. Hasyim Asy'ari untuk menghindari jangan sampai Nippon tersinggung atau menjadi curiga terhadap KH. Hasyim Asy'ari. Memang serba sulit posisi waktu itu. Jika tawaran ini diterima, kemungkinan akan menimbulkan fitnah, disamping kenyataannya usianya sudah uzur. Jika ditolak, jelas akan mendatangkan kecurigaan di pihak Nippon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan KH. Hasyim Asy'ari ternyata merupakan sebuah sikap yang sangat brilian dan memiliki implikasi jauh sekali. Dengan keputusan itu, keinginan Jepang terpenuhi sehingga tidak menimbulkan kecurigaan politik. Selain itu, rupanya secara tidak langsung KH. Hasyim Asy'ari juga sedang melakukan kaderisasi kepemimpinan level nasional kepada Abdul Wahid Hasyim. Melalui proses inilah mulai terlihat kelas kepemimpinan Abdul Wahid Hasyim yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;Menurut KH. Abdul Wahid Hasyim, sebenarnya dengan keputusan seperti itu ayahnya ingin memberi contoh keteladanan kepada generasi muda bahwa pengertian bijaksana bukanlah menjatuhkan pilihan terhadap sesuatu yang benar dan yang salah, atau terhadap sesuatu yang baik dan yang buruk. Bijaksana adalah kemampuan seseorang menjatuhkan pilihan antara dua perkara yang sama-sama salah atau sama-sama buruk, tetapi kondisi mengharuskan untuk memilih salah satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan itu dia menjelaskan panjang lebar kisah penahanan Hadhratusysyaikh dan politik kompensasi yang dijalankan Jepang. Insya Allah dalam waktu tidak lama lagi banyak kyai yang akan menduduki Kepala Jawatan Agama di daerah-daerah. "Mudah-mudahan Jawatan Agama itu tidak menjurus menjadi Jowo tan Agomo, Jawa tanpa agama," ujar KH. Wahid Hasyim berseloroh. (Redaksi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari "KARISMA ULAMA, Kehidupan Ringkas 26 Tokoh NU", Editor: Saifullah Ma'shum, Penerbit: Yayasan Saefuddin Zuhri dan Penerbit MIZAN&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4878495480096591345-4510657280230244838?l=uwhmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://uwhmaksum.blogspot.com/feeds/4510657280230244838/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4878495480096591345&amp;postID=4510657280230244838' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4878495480096591345/posts/default/4510657280230244838'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4878495480096591345/posts/default/4510657280230244838'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://uwhmaksum.blogspot.com/2008/05/kh-wahid-hasyim.html' title='KH. Wahid Hasyim'/><author><name>GusMaksum.Com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06399410419983207110</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_1Fy9u8mk4AY/SHDXVTcBPTI/AAAAAAAAAB0/SvZn35TzM9E/S220/IMAGE0001.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4878495480096591345.post-5480386362352751257</id><published>2008-05-29T07:15:00.000-07:00</published><updated>2008-05-29T07:17:09.972-07:00</updated><title type='text'>Cerpen: Kang Kasanun</title><content type='html'>Oleh: A. Mustofa Bisri&lt;br /&gt;Mendengar cerita-cerita tentang tokoh yang akan aku ceritakan ini, baik dari ayah atau kawan-kawannya seangkatan di pesantren, aku diam-diam mengaguminya. Bahkan seringkali aku membayangkannya seperti Superman, Spiderman, atau si Pesulap Mandrake. Wah, seandainya aku berkesempatan bertemu dengannya dan dapat satu ilmu saja, lamunku selalu. Ayah maupun kawan-kawannya selalu menyebutnya dengan Kang Kasanun. Tidak ada yang menyebut namanya saja. Boleh jadi karena faktor keseniorannya atau karena ilmunya.&lt;br /&gt;Kiai Mabrur, guruku ngaji Quran dan salah seorang kawan ayah di pesantren, paling semangat bila bercerita tentang Kang Kasanun. Aku dan kawan-kawanku paling senang mendengarkannya; apalagi Kiai Mabrur bila bercerita tentang tokoh yang dikaguminya itu acapkali sambil memperagakannya. Misalnya ketika bercerita bagaimana Kang Kasanun dikeroyok para begal, Kiai Mabrur memperagakan dengan memperlihatkan jurus-jurus silat. "Kang Kasanun itu pendekar yang ilmu silatnya komplit," katanya terengah-engah. "Yang saya peragakan itu tadi jurus silat Cibadak. Jurus yang digunakan Kang Kasanun membekuk tujuh begal yang mencegatnya di perjalanan. Tujuh orang dan Kang Kasanun sendirian. Bayangkan! Kami sendiri, saya dan beberapa kawan yang berminat, setiap malam Jumat dia ajari jurus-jurus silat dari berbagai cabang. Tapi mana mungkin bisa seperti dia? Dia itu bahkan mempunyai ilmu cicak. Bila sedang bersilat, bisa nempel dan merayap di dinding." Ayah sendiri sering juga bercerita tentang Kang Kasanun, tapi tidak dengan memperagakannya seperti Kiai Mabrur. "Nggak tahu, dia itu ilmunya dari mana?" kata ayah suatu hari ketika sedang bercerita tentang kawannya yang disebutnya jadug itu. "Di samping menguasai ilmu silat, ilmu hikmahnya aneh-aneh. Hanya dengan merapalkan bacaan aneh --campuran bahasa Arab dan Jawa-- dia bisa membuat tidur seiisi mushalla. Pernah dia menjadi tontonan orang sepasar gara-gara dia dihina penjual lombok lalu lombok satu pikul dimakannya habis. Dia tidak apa-apa, tapi penjualnya kemudian yang murus. Kata kawan-kawan dia juga bisa memanggil burung yang sedang terbang di udara dan ikan di dalam sungai." "Kata Kiai Mabrur, Pak Kasanun juga bisa menghilang, betul Yah?" tanya saya. Ayah tersenyum dan pandangannya seperti menerawang ke masa lalunya. "Pernah beberapa kawan diajarinya ilmu halimunan entah apa. Pokoknya ilmu untuk menghilang. Mereka disuruh puasa tujuh hari mutih, artinya bukanya hanya dengan nasi tanpa lauk apa-apa. Lalu ada satu malam ngebleng, semuanya tidak boleh tidur sama sekali. Ayah juga ikut." Ayah berhenti sejenak, tersenyum-senyum sendiri, mungkin terbawa kenangan masa lalunya, baru kemudian melanjutkan ceritanya. "Dari sekian orang yang ikut program halimunan itu, hanya ayah yang gagal. Ayah tahu kalau gagal, ketika ilmu itu dipraktikkan. Hari itu, kami beramai-ramai, di bawah pimpinan Kang Kasanun sendiri, datang ke toko Cina yang terkenal paling galak di kota. Kang Kasanun berpesan siapa pun di antara kami yang nanti di toko masih melihat orang lengkap dengan kepalanya, jangan sekali-kali mengambil sesuatu. Karena tandanya kalau kami sudah benar-benar hilang, tidak terlihat orang, yaitu apabila kepala semua orang tidak tampak. Dan ingat, kata Kang Kasanun, kita bukan niat mencuri tapi mengamalkan ilmu. Jadi ambil barang seadanya dan yang murah-murah saja." Ayah berhenti lagi, tersenyum-senyum lagi, baru sejurus kemudian melanjutkan. "Wah, saya lihat waktu itu kawan-kawan ada yang mengambil sabun, ada yang mengambil potlot, sisir, minyak rambut, dan lain-lain. Mabrur, guru Quranmu itu, malah sengaja mengambil manisan yang terletak persis di depan Cina pemilik toko yang galak itu. Anehnya, baik si pemilik toko maupun pelayan-pelayannya, seperti tidak melihat apa-apa. Setelah mengambil barang-barang itu, kawan-kawan ngeloyor begitu saja dan tak ada yang menegur. Saya yang malah ditanya Kang Kasanun, kenapa saya tidak mengambil apa-apa? Saya menjawab bahwa saya masih melihat kepala semua orang yang ada di toko. Jadi, sesuai pesan Kang Kasanun sendiri, saya tidak berani mengambil apa-apa. ’Sampeyan kurang mantap sih!’ komentar Kang Kasanun. Memang terus terang, waktu itu --sebelum menyaksikan sendiri adegan di toko itu-- saya tidak percaya ada ilmu halimunan, ada orang bisa menghilang." "Ada tamu ya, Bu?!" tanyaku kepada ibuku yang sedang sibuk membenahi kamar tamu. "Ya," jawab ibu tanpa menoleh, "Kawan lama ayahmu di pesantren. Beliau akan menginap beberapa malam. Mungkin mau kangen-kangenan sama ayahmu. Dengar itu, tawa mereka." "Ya, asyik benar tampaknya," timpalku. "Tamu dari mana sih, Bu?" "Kata ayahmu tinggalnya sekarang di luar Jawa. Namanya Kasanun atau siapa?!" "Kasanun?" tanya aku setengah berteriak. "Ee, jangan berteriak!" bisik ibu. Tapi aku sudah bergegas meninggalkannya. Dari gorden jendela aku mengintip ke ruang tamu. Sekejab aku jadi ragu-ragu. Tamu ayah tidak seperti yang aku bayangkan. Tidak gagah, malah terlihat kecil sekali di depan ayahku yang bertubuh besar. Kurus lagi. Ah, jangan-jangan ini bukan Kasanun sang pendekar yang sering diceritakan Kiai Mabrur. Masak kerempeng begitu. Tapi setelah nguping, mendengar pembicaraan ayah dan tamunya itu sebentar, aku menjadi yakin memang itulah sang Superman, Kang Kasanun. Apalagi tak lama kemudian Kiai Mabrur datang dan saling berpelukan dengan si tamu. Nanti malam, aku harus menemuinya, kataku mantap dalam hati. Aku harus mendapatkan salah satu ilmu hikmahnya. Kebetulan sekali, malam ketika ayah akan mengajar ngaji, aku dipanggil dan katanya, "Kenalkan, ini kawan ayah di pesantren, Kang Kasanun yang sering ayah ceritakan! Kawani dulu beliau sementara ayah mengaji." Begitu ayah pergi, aku segera menjabat tangan orang yang selama ini aku idolakan. Beliau menerima tanganku dengan menunduk-nunduk penuh tawadluk. "Gus, putra ke berapa?" tanyanya dengan suara lembut. "Nomor dua, Kiai!" jawabku sambil terus mengawasinya. "Jangan panggil saya kiai!" katanya bersungguh-sungguh. "Saya bukan kiai. Saya memang pernah mondok di pesantren bersama ayahanda Gus, tapi tidak seperti ayahanda Gus yang tekun belajar. Saya di pesantren hanya main-main saja." Aku tidak begitu menghiraukan apa yang beliau katakan, aku sudah punya rencana sendiri dari tadi. Mengapa harus ditunda, inilah saatnya, mumpung hanya berdua. Kapan lagi? "Bapak Kasanun," kata saya sengaja mengganti sebutan kiai dengan bapak, "sebenarnya saya sudah lama mendengar tentang Bapak, baik dari ayah maupun yang lain. Sekarang mumpung bertemu, saya mohon sudilah kiranya Bapak memberi ijazah kepada saya barang satu atau dua dari ilmu hikmah Bapak." Mendengar permohonan saya, tiba-tiba tamu yang sejak lama aku harapkan itu menangis. Benar-benar menangis sambil kedua tangannya menggapai-gapai. "Jangan, jangan, Gus! Gus jangan terperdaya oleh cerita-cerita orang tentang bapak. Apalagi kepingin yang macam-macam seperti yang pernah bapak lakukan. Biarlah yang menyesal bapak sendiri. Jadilah seperti ayahanda saja. Belajar. Ngaji yang giat. Dulu ayahanda Gus pernah sekali ikut dengan kegilaan masa muda bapak, tapi gagal. Mengapa? Bapak rasa karena ayahanda memang tidak serius. Beliau hanya serius dalam urusan belajar dan mengaji. Dan sekarang, lihatlah bapak dan lihatlah ayahanda Gus! Ayahanda Gus menjadi kiai besar, sementara bapak lontang-lantung seperti ini. Kawan-kawan bapak yang dulu ikutan bapak mendalami ilmu-ilmu kanuragan seperti ini rata-rata kini hanya jadi dukun. Ini masih mendingan, ada yang malah menggunakan ilmu itu untuk menipu masyarakat dengan mengaku-aku sebagai wali dan sebagainya. Orang awam yang tidak tahu, mana bisa membedakan antara karomah dan ilmu sulapan seperti itu?" Aku tidak bisa ceritakan perasaanku melihat orang yang selama ini kukagumi menangis. Masih terdengar sesekali isaknya ketika beliau melanjutkan. "Ayahanda dan Kiai Mabrur pasti tak pernah cerita bahwa bapak ini pernah dinasihati seorang singkek tua. Karena memang bapak tak pernah menceritakannya kepada siapa pun. Sekarang ini bapak ingin menceritakannya kepada Gus. Mau mendengarkan?" Saya hanya bisa mengangguk. "Pernah dalam suatu perjalanan bapak, bapak kehabisan sangu. Bapak pun mampir ke sebuah toko milik seorang singkek yang sudah tua sekali. Begitu masuk toko, bapak rapalkan aji halimunan bapak. Semua pelayan dan pelanggan yang ada tak ada yang bisa melihat bapak. Bapak langsung menuju ke meja si singkek tua yang terlihat terkantuk-kantuk di kursi tingginya. Pelan-pelan aku buka laci mejanya, tempat ia menyimpan uang. Bapak ambil semau bapak. Si singkek tua tidak bergerak. Namun begitu tangan bapak akan bapak tarik dari laci, tiba-tiba tangan keriput si singkek tua memegangnya dan langsung seluruh tubuh bapak lemas tak berdaya. ’Ilmu begini, kok kamu pamel-pamelkan,’ katanya hampir tanpa membuka mulut. "Ini nyang kamu peloleh sekian lamanya belajal, he?! Kasihan kamu olang! Ilmu mainan anak-anak begini untuk apa? Paling-paling buat gagah-gahahan ha. Siapa yang nganggep kamu gagah? Anak-anak kecil sama olang-olang bodoh dan olang-olang jahat saja ha! Ada olang pintel kagum sama kamu olang? Ada? Siapa? Olang hidup apa nyang dicali? Olang hidup cali baik buat dili sendili, kalau bisa buat olang lain. Cali senang sendili, jangan bikin susah olang lain ha!’ Pendek kata, habis bapak dinasehati. Setelah itu bapak dikasih uang dan disuruh pergi. Sejak itulah bapak tidak pernah lagi mengamalkan ilmu-ilmu gila bapak. Nasihat yang bapak dapat dari singkek tua itu sebenarnya hanyalah memantapkan apa yang lama bapak renungkan tentang kehidupan bapak, tapi bapak selalu ragu." Pak Kasanun memegang kedua tanganku penuh sayang. Katanya kemudian, "Kini bapak sudah mantap. Jalan yang bapak tempuh kemarin salah. Mestinya sejak awal bapak mengikuti jejak ayahanda Gus. Karena itu, Gus, sekali lagi, ikutilah jejak ayahanda dan jangan mengikuti jejak bapak ini. Carilah ilmu yang bermanfaat bagi diri Gus dan bagi sesama!" Aku tidak sempat memberi komentar apa-apa karena keburu datang Kiai Mabrur dan beberapa tamu kawan lamanya yang lain. Tapi aku masih mempunyai banyak waktu untuk merenungkan nasihatnya. (*) Rembang, 29 September 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4878495480096591345-5480386362352751257?l=uwhmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://uwhmaksum.blogspot.com/feeds/5480386362352751257/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4878495480096591345&amp;postID=5480386362352751257' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4878495480096591345/posts/default/5480386362352751257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4878495480096591345/posts/default/5480386362352751257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://uwhmaksum.blogspot.com/2008/05/cerpen-kang-kasanun.html' title='Cerpen: Kang Kasanun'/><author><name>GusMaksum.Com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06399410419983207110</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_1Fy9u8mk4AY/SHDXVTcBPTI/AAAAAAAAAB0/SvZn35TzM9E/S220/IMAGE0001.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4878495480096591345.post-4001366271167385392</id><published>2008-05-29T07:13:00.000-07:00</published><updated>2008-05-29T07:14:06.491-07:00</updated><title type='text'>cerpen : GUS JAKFAR</title><content type='html'>Di antara putera-putera Kiai Saleh, pengasuh pesantren "Sabilul Muttaqin" dan sesepuh di daerah kami, Gus Jakfar-lah yang paling menarik perhatian masyarakat. Mungkin Gus Jakfar tidak sealim dan sepandai saudara-saudaranya, tapi dia mempunyai keistimewaan yang membuat namanya tenar hingga ke luar daerah, malah konon beberapa pejabat tinggi dari pusat memerlukan sowan khusus ke rumahnya setelah mengunjungi Kiai Saleh. Kata Kang Solikin yang dekat dengan keluarga ndalem, bahkan Kiai Saleh sendiri segan dengan anaknya yang satu itu.&lt;br /&gt;"Kata Kiai, Gus Jakfar itu lebih tua dari beliau sendiri," cerita Kang Solikin suatu hari kepada kawan-kawannya yang sedang membicarakan putera bungsu Kiai Saleh itu. "Saya sendiri tidak paham apa maksudnya." "Tapi, Gus Jakfar memang luar biasa," kata Mas Bambang, pegawai Pemda yang sering mengikuti pengajian subuh Kiai Saleh. "Matanya itu lho. Sekilas saja mereka melihat kening orang, kok langsung bisa melihat rahasianya yang tersembunyi. Kalian ingat, Sumini yang anak penjual rujak di terminal lama yang dijuluki perawan tua itu, sebelum dilamar orang sabrang kan ketemu Gus Jakfar. Waktu itu Gus Jakfar bilang, 'Sum, kulihat keningmu kok bersinar, sudah ada yang ngelamar ya?'. Tak lama kemudian orang sabrang itu datang melamarnya." "Kang Kandar kan juga begitu," timpal Mas Guru Slamet. "Kalian kan mendengar sendiri ketika Gus Jakfar bilang kepada tukang kebun SD IV itu, 'Kang, saya lihat hidung sampeyan kok sudah bengkok, sudah capek menghirup nafas ya?' Lho, ternyata besoknya Kang Kandar meninggal." "Ya. Waktu itu saya pikir Gus Jakfar hanya berkelakar," sahut Ustadz Kamil, "Nggak tahunya beliau sedang membaca tanda pada diri Kang Kandar." "Saya malah mengalami sendiri," kata Lik Salamun, pemborong yang dari tadi sudah kepingin ikut bicara. "Waktu itu, tak ada hujan tak ada angina, Gus Jakfar bilang kepada saya, 'Wah, saku sampeyan kok mondol-mondol; dapat proyek besar ya?' Padahal saat itu saku saya justru sedang kemps. Dan percaya atau tidak, esok harinya saya memenangkan tender yang diselenggarakan Pemda tingkat propinsi." "Apa yang begitu itu disebut ilmu kasyaf?" tanya Pak Carik yang sejak tadi hanya asyik mendengarkan. "Mungkin saja," jawab Ustadz Kamil. "Makanya saya justru takut ketemu Gus Jakfar. Takut dibaca tanda-tanda buruk saya, lalu pikiran saya terganggu." *** Maka, ketika kemudian sikap Gus Jakfar berubah, masyarakat pun geger; terutama para santri kalong, orang-orang kampung yang ikut mengaji tapi tidak tinggal di pesantren seperti Kang Solikin yang selama ini merasa dekat dengan beliau. Mula-mula Gus Jakfar menghilang berminggu-minggu, kemudian ketika kembali tahu-tahu sikapnya berubah menjadi manusia biasa. Dia sama sekali berhenti dan tak mau lagi membaca tanda-tanda. Tak mau lagi memberikan isyarat-isyarat yang berbau ramalan. Ringkas kata, dia benar-benar kehilangan keistimewaannya. "Jangan-jangan ilmu beliau hilang pada saat beliau menghilang itu," komentar Mas Guru Slamet penuh penyesalan. "Wah, sayang sekali! Apa gerangan yang terjadi pada beliau?" "Ke mana beliau pergi saat menghilang pun, kita tidak tahu;" kata Lik Salamun. "Kalau saja kita tahu ke mana beliau pergi, mungkin kita akan mengetahui apa yang terjadi pada beliau dan mengapa beliau kemudian berubah." "Tapi, bagaimanapun ini ada hikmahnya," ujar Ustadz Kamil. "Paling tidak, kini kita bisa setiap saat menemui Gus Jakfar tanpa merasa deg-degan dan was-was; bisa mengikuti pengajiannya dengan niat tulus mencari ilmu. Maka, jangan kita ingin mengetahui apa yang terjadi dengan gus kita ini hingga sikapnya berubah atau ilmunya hilang, sebaiknya kita langsung saja menemui beliau." Begitulah, sesuai usul Ustadz Kamil, pada malam Jum'at sehabis wiridan salat Isya, saat mana Gus Jakfar prei, tidak mengajar; rombongan santri kalong sengaja mendatangi rumahnya. Kali ini hampir semua anggota rombongan merasakan keakraban Gus Jakfar, jauh melebihi yang sudah-sudah. Mungkin karena kini tidak ada lagi sekat berupa rasa segan, was-was dan takut. Setelah ngobrol ke sana kemari, akhirnya Ustadz Kamil berterus terang mengungkapkan maksud utama kedatangan rombongan: "Gus, di samping silaturahmi seperti biasa, malam ini kami datang juga dengan sedikit keperluan khusus. Singkatnya, kami penasaran dan sangat ingin tahu latar belakang perubahan sikap sampeyan." "Perubahan apa?" tanya Gus Jakfar sambil tersenyum penuh arti. "Sikap yang mana? Kalian ini ada-ada saja. Saya kok merasa tidak berubah." "Dulu sampeyan kan biasa dan suka membaca tanda-tanda orang," tukas Mas Guru Slamet, "kok sekarang tiba-tiba mak pet, sampeyan tak mau lagi membaca, bahkan diminta pun tak mau." "O, itu," kata Gus Jakfar seperti benar-benar baru tahu. Tapi dia tidak segera meneruskan bicaranya. Diam agak lama. Baru setelah menyeruput kopi di depannya, dia melanjutkan, "Ceritanya panjang." Dia berhenti lagi, membuat kami tidak sabar, tapi kami diam saja. "Kalian ingat, saya lama menghilang?" akhirnya Gus Jakfar bertanya, membuat kami yakin bahwa dia benar-benar siap untuk bercerita. Maka serempak kami mengangguk. "Suatu malam saya bermimpi ketemu ayah dan saya disuruh mencari seorang wali sepuh yang tinggal di sebuah desa kecil di lereng gunung yang jaraknya dari sini sekitar 200 km kea rah selatan. Namanya Kiai Tawakkal. Kata ayah dalam mimpi itu, hanya kiai-kiai tertentu yang tahu tentang kiai yang usianya sudah lebih 100 tahun ini. Santri-santri yang belajar kepada beliau pun rata-rata sudah disebut kiai di daerah masing-masing." "Terus terang, sejak bermimpi itu, saya tidak bisa menahan keinginan saya untuk berkenalan dan kalau bisa berguru kepada Wali Tawakkal itu. Maka dengan diam-diam dan tanpa pamit siapa-siapa, saya pun pergi ke tempat yang ditunjukkan ayah dalam mimpi dengan niat bilbarakah dan menimba ilmu beliau. Ternyata, ketika sampai di sana, hampir semua orang yang saya jumpai mengaku tidak mengenal nama Kiai Tawakkal. Baru setelah seharian melacak ke sana kemari, ada seorang tua yang memberi petunjuk." 'Cobalah nakmas ikuti jalan setapak di sana itu' katanya. 'Nanti nakmas akan berjumpa dengan sebuah sungai kecil; terus saja nakmas menyeberang. Begitu sampai seberang, nakmas akan melihat gubuk-gubuk kecil dari bambu. Nah, kemungkinan besar orang yang nakmas cari akan nakmas jumpai di sana. Di gubuk yang terletak di tengah-tengah itulah tinggal seorang tua seperti yang nakmas gambarkan. Orang sini memanggilnya Mbah Jogo. Barangkali itulah yang nakmas sebut Kiai siapa tadi?' 'Kiai Tawakkal.' 'Ya, Kiai Tawakkal. Saya yakin itulah orangnya, Mbah Jogo.' "Saya pun mengikuti petunjuk orang tua itu, menyeberang sungai dan menemukan sekelompok rumah gubuk dari bambu." "Dan betul, di gubuk bambu yang terletak di tengah-tengah, saya menemukan Kiai Tawakkal alias Mbah Jogo sedang dikelilingi santri-santrinya yang rata-rata sudah tua. Saya diterima dengan penuh keramahan, seolah-olah saya sudah merupakan bagian dari mereka. Dan kalian tahu? Ternyata penampilan Kiai Tawakkal sama sekali tidak mencerminkan sosoknya sebagai orang tua. Tubuhnya tegap dan wajahnya berseri-seri. Kedua matanya indah memancarkan kearifan. Bicaranya jelas dan teratur. Hampir semua kalimat yang meluncur dari mulut beliau bermuatan kata-kata hikmah." Tiba-tiba Gus Jakfar berhenti, menarik nafas panjang, baru kemudian melanjutkan, "Hanya ada satu hal yang membuat saya terkejut dan tgerganggu. Saya melihat di kening beliau yang lapang ada tanda yang jelas sekali, seolah-olah saya membaca tulisan dengan huruf yang cukup besar dan berbunyi 'Ahli Neraka'. Astaghfirullah! Belum pernah selama ini saya melihat tanda yang begitu gambling. Saya ingin tidak mempercayai apa yang saya lihat. Pasti saya keliru. Masak seorang yang dikenal wali, berilmu tinggi, dan disegani banyak kiai yang lain, disurati sebagai ahli neraka. Tak mungkin. Saya mencoba meyakin-yakinkan diri saya bahwa itu hanyalah ilusi, tapi tak bisa. Tanda itu terus melekat di kening beliau. Bahkan belakangan saya melihat tanda itu semakin jelas ketika beliau habis berwudhu. Gila!" "Akhirnya niat saya untuk menimba ilmu kepada beliau, meskipun secara lisan memang saya sampaikan demikian, dalam hati sudah berubah menjadi keinginan untuk menyelidiki dan memecahkan keganjialan ini. Beberapa hari saya amati perilaku Kiai Tawakkal, saya tidak melihat sama sekali hal-hal mencurigakan. Kegiatan rutinnya sehari-hari tidak begitu berbeda dengan kebanyakan kiai yang lain: mengimami salat jamaah; melakukan salat-salat sunnat seperti dhuha, tahajjud, witir,dsb.; mengajar kitab-kitab (umumnya kitab-kitab besar); mujahadah; dzikir malam; menemui tamu; dan semacamnya. Kalaupun beliau keluar, biasanya untuk memenuhi undangan hajatan atau- dan ini sangat jarang sekali- mengisi pengajian umum. Memang ada kalanya beliau keluar pada malam-malam tertentu; tapi menurut santri-santri yang lama, itu pun merupakan kegiatan rutin yang sudah dijalani Kiai Tawakkal sejak muda. Semacam lelana brata, kata mereka." "Baru setelah beberapa minggu tinggal di 'pesantren bambu', saya mendapat kesempatan atau tepatnya keberanian untuk mengikuti Kiai Tawakkal keluar. Saya pikir, inilah kesempatan untuk mendapatkan jawaban atas tanda tanya yang selama ini mengganggu saya." "Begitulah, pada suatu malam purnama, saya melihat Kiai keluar dengan berpakaian rapi. Melihat waktunya yang sudah larut, tidak mungkin beliau pergi untuk mendatangi undangan hajatan atau lainnya. Dengan hati-hati saya membuntutinya dari belakang; tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh. Dari jalan setapak hingga ke jalan desa, Kiai terus berjalan dengan langkah yang tetap tegap. Akan ke mana beliau gerangan? Apa ini yang disebut semacam lelana brata? Jalanan semakin sepi; saya pun semakin berhati-hati mengikutinya, khawatir tiba-tiba Kiai menoleh ke belakang." "Setelah melewati kuburan dan kebun sengon, beliau berbelok. Ketika kemudian saya ikut belok, saya kaget, ternyata sosoknya tak kelihatan lagi. Yang terlihat justru sebuah warung yang penuh pengunjung. Terdengar gelak tawa ramai sekali. Dengan bengong saya mendekati warung terpencil dengan penerangan petromak itu. Dua orang wanita- yang satu masih muda dan yang satunya lagi agak lebih tua- dengan dandanan yang menor sibuk melayani pelanggan sambil menebar tawa genit ke sana kemari. Tidak mungkin Kiai mampir ke warung ini, pikir saya. Ke warung biasa saja tidak pantas, apalagi warung yang suasananya saja mengesankan kemesuman ini. 'Mas Jakfar!' tiba-tiba saya dikagetkan oleh suara yang tidak asing di telinga saya, memanggil-manggil nama saya. Masyaallah, saya hampir-hampir tidak mempercayai pendengaran dan penglihatan saya. Memang betul, mata saya melihat Kiai Tawakkal melambaikan tangan dari dalam warung. Ah. Dengan kikuk dan pikiran tak karuan, saya pun terpaksa masuk dan menghampiri kiai yang saya yang duduk santai di pojok. Warung penuh dengan asap rokok. Kedua wanita menor menyambut saya dengan senyum penuh arti. Kiai Tawakkal menyuruh orang disampingnya untuk bergeser, 'Kasi kawan saya ini tempat sedikit!' Lalu, kepada orang-orang yang ada di warung, Kiai memperkenalkan saya. Katanya, 'Ini kawan saya, dia baru datang dari daerah yang cukup jauh. Cari pengalaman katanya'. Mereka yang duduknya dekat serta merta mengulurkan tangan, menjabat tangan saya dengan ramah; sementara yang jauh melambaikan tangan". "Saya masih belum sepenuhnya menguasai diri, masih seperti dalam mimpi, ketika tiba-tiba saya dengar Kiai menawari, 'Minum kopi ya?!' Saya mengangguk asal mengangguk. 'Kopi satu lagi, Yu!' kata Kiai kepada wanita warung sambil mendorong piring jajan ke dekat saya. 'Silakan! Ini namanya rondo royal, tape goreng kebanggan warung ini! Lagi-lagi saya hanya menganggukkan kepala asal mengangguk." "Kiai Tawakkal kemudian asyik kembali dengan 'kawan-kawan'-nya dan membiarkan saya bengong sendiri. Saya masih tak habis pikir, bagaimana mungkin Kiai Tawakkal yang terkenal waliyullah dan dihormati para kiai lain bisa berada di sini. Akrab dengan orang-orang beginian; bercanda dengan wanita warung. Ah, inikah yang disebut lelana brata? Ataukah ini merupakan dunia lain beliau yang sengaja disembunyikan dari umatnya? Tiba-tiba saya seperti mendapat jawaban dari tanda tanya yang selama ini mengganggu saya dan karenanya saya bersusah payah mengikutinya malam ini. O, pantas di keningnya kulihat tanda itu. Tiba-tiba sikap dan pandangan saya terhadap beliau berubah." 'Mas, sudah larut malam,'tiba-tiba suara Kiai Tawakkal membuyarkan lamunan saya. 'Kita pulang, yuk!' Dan tanpa menunggu jawaban saya, Kiai membayari minuman dan makanan kami, berdiri, melambai kepada semua, kemudian keluar. Seperti kerbau dicocok hidung, saya pun mengikutinya. Ternyata setelah melewati kebon sengon, Kiai Tawakkal tidak menyusuri jalan-jalan yang tadi kami lalui. 'Biar cepat, kita mengambil jalan pintas saja!' katanya." "Kami melewati pematang, lalu menerobos hutan, dan akhirnya sampai di sebuah sungai. Dan, sekali lagi saya menyaksikan kejadian yang menggoncangkan. Kiai Tawakkal berjalan di atas permukaan air sungai, seolah-olah di atas jalan biasa saja. Sampai di seberang, beliau menoleh ke arah saya yang masih berdiri mematung. Beliau melambai. 'Ayo!' teriaknya. Untung saya bisa berenang; saya pun kemudian berenang menyeberangi sungai yang cukup lebar. Sampai di seberang, ternyata Kiai Tawakkal sudah duduk-duduk di bawah pohon randu alas, menunggu. 'Kita istirahat sebentar,' katanya tanpa menengok saya yang sibuk berpakaian. 'Kita masih punya waktu, insya Allah sebelum subuh kita sudah sampai pondok.' Setelah saya ikut duduk di sampingnya, tiba-tiba dengan suara berwibawa, Kiai berkata mengejutkan, 'Bagaimana? Kau sudah menemukan apa yang kaucari? Apakah kau sudah menemukan pembenar dari tanda yang kaubaca di kening saya? Mengapa kau seperti masih terkejut? Apakah kau yang mahir melihat tanda-tanda menjadi ragu terhadap kemahiranmu sendiri?' Dingin air sungai rasanya semakin menusuk mendengar rentetan pertanyaan beliau yang menelanjangi itu. Saya tidak bisa berkata apa-apa. Beliau yang kemudian terus berbicara. 'Anak muda, kau tidak perlu mencemaskan saya hanya karena kau melihat tanda "Ahli Neraka" di kening saya. Kau pun tidak perlu bersusah-payah mencari bukti yang menunjukkan bahwa aku memang pantas masuk neraka. Karena, pertama, apa yang kau lihat belum tentu merupakan hasil dari pandangan kalbumu yang bening. Kedua, kau kan tahu, sebagaimana neraka dan sorga, aku adalah milik Allah. Maka terserah kehendak-Nya, apakah Ia memasukkan diriku ke sorga atau neraka. Untuk memasukkan hamba-Nya ke sorga atau neraka, sebenarnyalah Ia tidak memerlukan alasan. Sebagai kiai, apakah kau berani menjamin amalmu pasti mengantarkanmu ke sorga kelak? Atau kau berani mengatakan bahwa orang-orang di warung yang tadi kau pandang sebelah mata itu pasti masuk neraka? Kita berbuat baik karena kita ingin dipandang baik oleh-Nya, kita ingin berdekat-dekat dengan-Nya, tapi kita tidak berhak menuntut balasan kebaikan kita. Mengapa? Karena kebaikan kita pun berasal dari-Nya. Bukankah begitu?' Aku hanya bisa menunduk. Sementara Kiai Tawakkal terus berbicara sambil menepuk-nepuk punggung saya. 'Kau harus lebih berhati-hati bila mendapat cobaan Allah berupa anugerah. Cobaan yang berupa anugerah tidak kalah gawatnya dibanding cobaan yang berupa penderitaan. Seperti mereka yang di warung tadi; kebanyakan mereka orang susah. Orang susah sulit kau bayangkan bersikap takabbur; ujub, atau sikap-sikap lain yang cenderung membesarkan diri sendiri. Berbeda dengan mereka yang mempunyai kemampuan dan kelebihan: godaan untuk takabbur dan sebagainya itu datang setiap saat. Apalagi bila kemampuan dan kelebihan itu diakui oleh banyak pihak' Malam itu saya benar-benar merasa mendapatkan pemahaman dan pandangan baru dari apa yang selama ini sudah saya ketahui. 'Ayo kita pulang!' tiba-tiba Kiai bangkit. 'Sebentar lagi subuh. Setelah sembahyang subuh nanti, kau boleh pulang.' Saya tidak merasa diusir; nyatanya memang saya sudah mendapat banyak dari kiai luar biasa ini." "Ketika saya ikut bangkit, saya celingukan. Kiai Tawakkal sudah tak tampak lagi. Dengan bingung saya terus berjalan. Kudengar azan subuh berkumandang dari sebuah surau, tapi bukan surau bambu. Seperti orang linglung, saya datangi surau itu dengan harapan bisa ketemu dan berjamaah salat subuh dengan Kiai Tawakkal. Tapi, jangankan Kiai Tawakkal, orang yang mirip beliau pun tak ada. Tak seorang pun dari mereka yang berada di surau itu yang saya kenal. Baru setelah sembahyang, seseorang menghampiri saya. 'Apakah sampeyan Jakfar?' tanyanya. Ketika saya mengiyakan, orang itu pun menyerahkan sebuah bungkusan yang ternyata berisi barang-barang milik saya sendiri. 'Ini titipan Mbah Jogo, katanya milik sampeyan.' 'Beliau di mana?' tanya saya buru-buru. 'Mana saya tahu?' jawabnya. 'Mbah Jogo datang dan pergi semaunya. Tak ada seorang pun yang tahu dari mana beliau datang dan ke mana beliau pergi.' Begitulah ceritanya. Dan Kiai Tawakkal alias Mbah Jogo yang telah berhasil mengubah sikap saya itu tetap merupakan misteri." Gus Jakfar sudah mengakhiri ceritanya, tapi kami yang dari tadi suntuk mendengarkan masih diam tercenung sampai Gus Jakfar kembali menawarkan suguhannya. Rembang, Mei 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4878495480096591345-4001366271167385392?l=uwhmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://uwhmaksum.blogspot.com/feeds/4001366271167385392/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4878495480096591345&amp;postID=4001366271167385392' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4878495480096591345/posts/default/4001366271167385392'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4878495480096591345/posts/default/4001366271167385392'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://uwhmaksum.blogspot.com/2008/05/cerpen-gus-jakfar.html' title='cerpen : GUS JAKFAR'/><author><name>GusMaksum.Com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06399410419983207110</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_1Fy9u8mk4AY/SHDXVTcBPTI/AAAAAAAAAB0/SvZn35TzM9E/S220/IMAGE0001.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4878495480096591345.post-2558809047021054462</id><published>2008-05-29T07:06:00.000-07:00</published><updated>2008-05-29T07:07:19.189-07:00</updated><title type='text'>KH. Abbas Djamil Buntet (1879 – 1946) (Tulisan Kedua - Habis)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Memimpin Pesantren Buntet&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dengan bermodal ilmu pengetahuan yang diperoleh dari berbagai pesantren di Jawa, kemudian dipermatang lagi dengan keilmuan yang dipelajari dari Mekah, serta upayanaya mengikuti perkembangan pemikiran Islam yang terjadi di Timur Tengah pada umumnya, maka mulailah Kiai Abbas memegang tampuk pimpinan Pesantren Buntet Waruisan dari nenek moyangnya itu dengan penuh kesungguhan. Dengan modal keilmuan yang memadai itu membuat daya tarik pesantren Buntet semakin tinggi.&lt;br /&gt;Sebagai seorang Kiai muda yang energik ia mengajarkan berbagai khazanah kitab kuning, namun tidak lupa memperkaya dengan ilmu keislaman modern yang mulai berkembang saat itu. Maka kitab-karya ulama Mesir seperti tafsir Tontowi Jauhari yang banyak mengupas masalah ilmu pengetahuan itu mulai diperkenalkan pada para santri. Demikian juga tafsir Fahrurrozi yang bernuansa filosofis itu juga diajarkan. Dengan adanya pengetahuan yang luas itu pengajaran ushul fikih mencapai kemajuan yang sangat pesat, sehingga pemikiran fikih para alumni Buntet sejak dulu sudah sangat maju. Sebagaimana umumnya pesantren fikih memang merupakan kajian yang sangat diprioritaskan, sebab ilmu ini menyangkut kehidupan sehari-hari masyarakat.&lt;br /&gt;Dengan sikapnya itu maka nama Kiai Abbas dikenal keseluruh Jawa, sebagai seorang ulama yang alim dan berpemikiran progresif.Namun demikian ia tetap rendah hati pada para santrinya, misalnya ketika ditanya sesuai yang tidak menguasasi, atau ada santri yang minta diajari kitab yang belum pernah dikajianya ulang, maka Kiai Abbas terus terang mengatakan pada santrinya bahwa ia belum menguasasi kitab tersebut, sehingga perlu waktu untuk menelaahnya kembali.&lt;br /&gt;Walaupun namanya sudah terkenal diseantero pulau jawa, baik karena kesaktiannya maupun karena kealimannya, tetapi Kiai Abbas tetap hidup sederhana. Di langgar yang beratapkan genteng itu, ada dua kamar dan ruang terbuka cukup lebar dengan hamparan tikar yang terbuat dari pandan. Di ruang terbuka inilah kiai Abbas menerima tamu tak henti-hentinya. Setiap usai shalat Dhuhur atau Ashar, sebuah langgar yang berada di pesantren Buntet, Cirebon itu selalu didesaki para tamu. Mereka berdatangan hampir dari seluruh pelosok daerah. Ada yang datang dari daerah sekitar Jawa Barat, Jawa Tengah bahkan juga ada yang dari Jawa Timur. Mereka bukan santri yang hendak menimba ilmu agama, melainkan inilah masyarakat yang hendak belajar ilmu kesaktian pada sang guru.&lt;br /&gt;Melawan Penjajah Belanda Walaupun saat itu, Kiai Abbas sudah berumur sekitar 60 tahun, tetapi tubuhnya tetap gagah dan perkasa. Rambutnya yang lurus dan sebagian sudah memutih, selalu di tutupi peci putih yang dilengkapi serban – seperti lazimnya para kiai. Dalam tradisi pesantren, selain dikenal dengan tradisi ilmu kitab kuning, juga dikenal dengan tradisi ilmu kanuragan atau ilmu bela diri, yang keduanya wajib dipelajari. Apalagi dalam menjalankan misi dakwah dan berjuang melawan penjahat dan penjajah. Kehadiran ilmu kanuragan menjadi sebuah keharusan. Oleh karena itu ketika usianya mulai senja, sementara perjuangan kemerdekaan saat itu sedang menuju puncaknya, makaa pengajaran ilmu kanuragan dirasa lebih mendesak untuk mencapai kemerdekaan.&lt;br /&gt;Maka dengan berat hati terpaksa ia tinggalkan kegiatannya mengajar kitab-kitab kuning pada ribuan santrinya. Sebab yang menangani soal itu sudah diserahkan sepenuhnya pada kedua adik kandungnya, KH. Anas dan KH. Akyas. Sementara Kiai Abbas sendiri, setelah memasuki masa senjanya, lebih banyak memusatkan perhatian pada kegiatan dakwah di Masyarakat dan mengajar ilmu-ilmu kesaktian atau ilmu beladiri, sebagai bekal masyarakat untuk melawan penjajah.Tampaknya ia mewarisi darah perjuangan dari kakeknya yaitu Mbah Qoyyim, yang rela meninggalkan istana Cirebon karena menolak kehadiran Belanda. Dan kini darah perjuangan tersebut sudah merasuk ke cucu-cucunya. Karena itu Kiai Abbas mulai merintas perlawanan, dengan mengajarkan berbagai ilmu kesaktian padsa masyarakat.&lt;br /&gt;Tentu saja yang berguru pada Kiai Abbas bukan orang sembarangan, atau pesilat pemula, melainkan para pendekar yang ingin meningkatkan ilmunya. Maka begitu kedatangan tamu ia sudah bisa mengukur seberapa tinggi kesaktian mereka, karena itu Kiai Abbas menerima tamu tertentu langsung dibawa masuk ke kamar pribadinya. Dalam mkamar mereka langsung dicoba kemampuannya dengan melakukan duel, sehingga membuat suasana gaduh. Baru setelah diuji kemampuannya sang kiai mengijazahi berbagai amalan yang diperlukan, sehingga kesaktian dan kekebalan mereka bertambah.&lt;br /&gt;Dengan gerakan itu maka pusantren Buntet dijadikan sebagai markas pergerakan kaum Republik untuk melawan penjajahan. Mulai saat itu Pesantren Buntet saat itu menjadi basis perjuangan umat Islam melawan penjajah yang tergabung dalam barisan Hizbullah. Sebagaimana Sabilillah, Hizbullah juga merupakan kekuatan yang tanggung dan disegani musuh, kekuata itu diperoleh berkat latihan-latihan berat yang diperoleh dalam pendidikan PETA (Pembela Tanah Air) di Cibarusa semasa penjaajahan Jepang. Organisasi perjuangan umat Islam ini didirikan untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah. Anggotanya terdiri atas kaum tua militan. Organisasi ini di Pesantren Buntet, diketuai Abbas dan adiknya KH. Anas, serta dibantu oleh ulama lain seperti KH. Murtadlo, KH. Soleh dan KH. Mujahid.&lt;br /&gt;Karena itu muncul tokoh Hizbullah di zaman pergerakan Nasional yang berasal dari Cirebon seperti KH. Hasyim Anwar dan KH. Abdullah Abbas putera Kiai Abbas. Ketika melakukan perang gerilya, tentara Hizbullah memusatkan pertahahannya di daerah Legok, kecamatan Cidahu, kabupaten Kuningan, dengan front di perbukitan Cimaneungteung yang terletak didaeah Waled Selatan membentang ke Bukit Cihirup Kecapantan Cipancur, Kuningan. Daerah tesebut terus dipertahankan sampai terjadinya Perundingan Renville yang kemudian Pemerintah RI beserta semua tentaranya hizrah ke Yogyakarta. Selain mendirikan Hisbullah, pada saat itu di Buntet Pesantren juga dikenal adanya organisasi yang bernama Asybal. Inilah organisasi anak-anak yang berusia di bwah 17 tahun. Organisasi ini sengaja dibentuk oleh para sesepuh Buntet Pesantren sebagai pasukan pengintai atau mata-mata guna mengetahui gerakan musuh sekaligus juga sebagai penghubung dari daerah pertahanan sampai ke daerah front terdepan. Semasa perang kemerdekaan itu, banyak warga Buntet Pesantren yang gugur dalam pertempuran. Diantaranya adalah KH. Mujahid, kiai Akib, Mawardi, Abdul Jalil, Nawawi dan lain-lain.&lt;br /&gt;Basis kekuatan laskar yang dibangun oleh Kiai Abbas itu kemudian menjadi pilar penting bagi tercetusnya revolusi November di surabaya tahun 1946. Peristiwa itu terbukti setelah Kiai Hasyim Asyari mengeluarkan resolusi jihad pada 22 Oktober 1946, Bung Tomo segera datang berkonsultasi pada KH. Hasyim Asy’ari guna minta restu dimulainya perlawanan terhadap tentara Inggris. Tetapi kiai Hasyim menyarankan agar perlawanan rakyat itu jangan dimulai terlebih dahulu – sebelum KH. Abbas, sebagai Laskar andalannya datang ke Surabaya. Memang setelah itu laskar dari pesantren Buntet, di bawah pimpinan KH. Abbas beserta adiknya KH. Anas, mempunyai peran besar dalam perjuangan menentang tentara Inggris yang kemudian dikenal dengan peristiwa 10 november 1945 itu. Atas restu Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, ia terlibat langsung dalam pertempuran Surabaya tersebut. Selanjutnya kiai Abbas juga mengirimkan para pemuda yang tergabung dalam tentara Hizbullah ke berbagai daerah pertahanan untuk melawan penjajah yang hendak menguasai kembali rtepublik ini, seperti ke Jakarta, Bekasi, Cianjur dan lain-lain.&lt;br /&gt;Dialah santri yang mempunyai beberapa kelebihan, baik dalam bidang ilmu bela diri maupun ilmu kedigdayaan. Dan tidak jarang, KH. Abbas diminta bantuan khusus yang berkaitan dengan keahliannya itu.Hubungan Kiai Hasyim dengan Kiai Abbas memang sudah lama terjalin, terlihat ketika pertama kali Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan pesantrean Tebuireng, Kiai sakti dari Cirebon itu banyak memberikan perlindungan, terutama saat diganggu oleh para penjahat setempat, yang merasa terusik oleh kehadiran pesantren Tebuireng. Sekitar tahun 1900, KH. Abbas datang dari Buntet bersama kakak kandungnya, KH.Soleh Zamzam, Benda Kerep, KH.Abdullah Pengurangan dan Kiai Syamsuri Wanatar. Berkat kehadiran mereka itu para penjahat yang dibeking oleh Belanda, penguasa pabrik gula Cukir itu tidak lagi mengganggu pesantren tebuireng, kapok tidak berani mengganggu lagi. Tradisi pessantren antara kanuragan, moralitas dan kitab kuning saling menopang, tanpa salah satunya yantg lain tidak berjalan, karena itu semua merupakan tradisi dalam totalitasnya&lt;br /&gt;Berjuang Hingga Akhir Hayat Walaupun revolusi November dimenangkan oleh laskar pesantren dengan penuh gemilang, tetapi hal itu tidak membuat mereka terlena, sebab Belanda dengan kelicikannya akan selalu mencari celah menikam Republik ini. Karena itu Kiai Abbas selalu mengikuti perkembangan politik, baik di lapanagan maupun di meja perundingan. Sementara laskar masih terus disiagakan. Berbagai latihan terus digelar, terutama bagi kalangan muda yang baru masuk kelaskaran. Berbagai daerah juga dibuka simpul kelaskaran yang siap menghadapi kembalinya penjajahan. Di tengah gigihnya perlawanan rakyat terhadap penjajah, misi diplomasi juga dijalankan, semuanya itu tidak terlepas dari perhatian para ulama. Karena itu bepata kecewanya para pejuang, termasuk para ulama yang memimpin perang itu, ketika sikap para diplomat kita sangat lemah, banyak mengalah pada keinginan Belanda dalam Perjanjian Linggar Jati tahun 1946 itu. Mendengar hail perjanjian itu Kiai Abbas sangat terpukul, merasa perjuangannya dikhianati, akhirnya jatuh sakit, yang kemudian mengakibatkan Kiai yang sangat disegani sebagai pemimpin gerilya itu wafat pada hari Ahad pada waktu subuh, 1 Rabiul Awal 1365 atau 1946 Masehi, kemudian dikuburkan di pemakaman Buntet Pesantren. Hingga saat ini karakter perjuangan masih terus ditradisikan di Pesantren Buntet, pada masa represi Orde Baru pesantren ini dengan gigihnya mempertahankan independensinya dari tekanan rezim itu. Tetapi semuanya dijalankan dengan penuh keluwesan, sehingga orde baru juga tidak menghadapinya dengan frontal. Akibatnya pada masa ramainya gerakan reformasi pikiran dan pandangan Kiai Abdullah Abbas sangat diperhatikan oleh semua para penggerak reformasi, baik dari kalanagan NU maupun komunitas lainnya. Itulah Peran sosial keagamaan pesantren Buntet yang dirintis Mbah Qoyyim dilanjutkan oleh Kiai Abbas, kemudian diteruskan lagi oleh Kiai Abdullah Abbas menjadikan Buntet sebagai Pesantren perjuangan. (NU online/Abdul Munim DZ)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4878495480096591345-2558809047021054462?l=uwhmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://uwhmaksum.blogspot.com/feeds/2558809047021054462/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4878495480096591345&amp;postID=2558809047021054462' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4878495480096591345/posts/default/2558809047021054462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4878495480096591345/posts/default/2558809047021054462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://uwhmaksum.blogspot.com/2008/05/kh-abbas-djamil-buntet-1879-1946_29.html' title='KH. Abbas Djamil Buntet (1879 – 1946) (Tulisan Kedua - Habis)'/><author><name>GusMaksum.Com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06399410419983207110</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_1Fy9u8mk4AY/SHDXVTcBPTI/AAAAAAAAAB0/SvZn35TzM9E/S220/IMAGE0001.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4878495480096591345.post-4336426164761167766</id><published>2008-05-29T06:59:00.000-07:00</published><updated>2008-05-29T07:06:19.464-07:00</updated><title type='text'>KH. Abbas Djamil Buntet (1879 – 1946) (Tulisan - Pertama)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Memadukan Kitab Kuning dan Ilmu Kanuragan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Buntet hingga saat ini dikenal sebagai pesantren yang sangat prestisius hingga sekarang, tidak hanya dari segi mutu pendidikan yang disajikan, sebagai pesantren salaf yang mengajarkan berbagai kitab kuning bertaraf babon, tetapi pesantren ini juga memiliki peran-peran sosial politik yang diambil oleh para pemimpinnya. Kualitas pengajian dan kharisma seorang kiai merupakan daya tarik utama dalam system pendidikan pesamtren Salaf. Dan ini tetap dipertahankan dalam system pendidikan pesantren Buntet sebabagi sosok pesantren salaf yang tidak pernah kehilangan pesona dan peran dalam dunia modern.&lt;br /&gt;Tersebutlah saat ini peran sosial politik yang diambil kiai Abdullah Abbas, selalu menjadi rujukan para pemimpin nasional. Tidak hanya karena pengikutnya banyak, tetapi memang nasehat dan pandangannya sangat berisi. Semuanya itu tidak diperoleh begitu saja, melainkan hasil pergumulan panjang, yang penuh pengalaman dan pelajaran, sehingga membuat para tokoh matang dalam kancah perjuangan. Bukan sekadar tokoh yang berperan karena mengandalkan popularitas keluarga atau keturunannya. Semuanya itu tidak terlepas dari peran para pendahulu pesantren Buntet ayah Kiai Abdullah Abbas sendiri yaitu Kiai Abbas, seorang ulama besar yang mampu memadukan kitab kuning dan ilmu kanuragan sekaligus, sebagai sarana perjuangan membela umat.&lt;br /&gt;Latar Belakang Keluarga Kiai Abas adalah putra sulung KH. Abdul Jamil yang dilahirkan pada hari Jumat 24 Zulhijah 1300 H atau 1879 M di desa Pekalangan, Cirebon. Sedangkan KH. Abdul Jamil adalah putra dari KH. Muta’ad yang tak lain adalah menantu pendiri Pesantren Buntet, yakni Mbah Muqayyim salah seorang mufti di Kesultanan Cirebon. Ia menjadi Mufti pada masa pemerintahan Sultan Khairuddin I, Sultan Kanoman yang mempunyai anak sultan Khairuddin II yang lahir pada tahun 1777. Tetapi Jabatan terhormat itu kemudian ditinggalkan semata-mata karena dorongan dan rasa tanggungjawab terhadap agama dan bangsa. Selain itu juga karena sikap dasar politik Mbah Muqayyim yang non-cooperative terhadap penjajah Belanda – karena penjajah secara politik saat itu sudah “menguasai” kesultanan Cirebon.&lt;br /&gt;Setelah meninggalkan Kesultanan Cirebon, maka didirikanlah lembaga pendidikan pesantren tahun 1750 di Dusun Kedung malang, desa Buntet, Cirebon yang petilasannya dapat dilihat sampai sekarang berupa pemakaman para santrinya. Untuk menmghindari desakan penjajah Belanda, ia selalu berpindah-pindah. Sebelum berada di Blok Buntet, (desa Martapada Kulon) seperti sekarang ini, ia berada di sebuah daerah yang disebut Gajah Ngambung. Disebut begitu, konon, karena Mbah Muqayyim dikhabarkan mempunyai gajah putih.&lt;br /&gt;Setelah itu juga masih terus berpindah tempat ke Persawahan Lemah Agung (masih daerah Cirebon), lantas ke daerah yang diebut Tuk Karangsuwung. Bahkan, lantara begitu gencarnya desakan penjajah Belanda (karena sikap politik yang non-cooperative), Mbah Muqayyim sampai “hijrah” ke daerah Beji, Pemalang, Jawa Tengah, sebelum kembali ke daerah Buntet, Cirebon. Hal itu dilakukan karena hampir setiap hari tentara penjajah Belanda setiap hari melakukan patroli ke daerah pesantren. Sehingga suasana pesantren, mencekam, tapi para santri tetap giat belajar sambil terus begerilya, bila malam hari tiba.&lt;br /&gt;Semuanya itu dijalani dengan tabah dan penuh harapan, sebab Mbah Qoyyim selalu mendampingi mereka. Sementara bimbingan Mbah Qoyyim selalu meraka harapkan sebab kiai itu dikenal sebagai tokoh yang ahli tirakat (riyadlah) untuk kewaspadaan dan keselamatan bersama. Ia pernah berpuasa tanpa putus selama 12 tahun. Mbah Muqayyim membagi niat puasanya yang dua belas tahun itu dalam empat bagian. Tiga tahun pertama, ditunjukan untuk keselamatan Buntet Pesantren. Tiga tahun kedua untuk keselamatan anak cucuknya. Tiga tahun yang ketiga untuk para santri dan pengikutnya yang setia. Sedang tiga tahun yang keempat untuk keselamatan dirinya. Saat itu Mbah Muqayyimlah peletak awal Pesantren Buntet, sudah berpikir besar untuk keselamatan umat Islam dan bangsa. Karena itu pesantren rintisannya hingga saat ini masih mewarisi semangat tersebut. Sejak zaman pergerakan kemerdekaan, dan ketika para ulama mendirikan Nahdlatul Ulama, pesantren ini menjadi salah satu basis kekuatan NU di Jawa Barat.&lt;br /&gt;Masa Pembentukan Dengan demikian pada dasarnya Kiai Abbas adalah dari keluarga alim karena itu pertama ia belajar pada ayahnya sendiri. KH. Abdul Jamil. Setelah menguasai dasar-dasar ilmu agama baru pindah ke pesantren Sukanasari, Plered, Cirebon dibawah pimpinan Kiai Nasuha. Setelah itu, masih didaerah Jawa Barat, ia pindah lagi ke sebuah pesantren salaf di daerah Jatisari dibawah pimpinan Kiai Hasan. Baru setelah itu keluar daerah yakni ke sebuah pesantren di Jawa Tengah,tepatnya di kabupaten Tegal yang diasuh oleh Kiai Ubaidah.&lt;br /&gt;Setelah berbagai ilmu keagamaan dikuasai, maka selanjutnya ia pindah ke pesantren yang sangat kondang di Jawa Timur, yakni Pesantren Tebuireng, Jombang di bawah asuhan Hadratusyekh Hasyim Asy’ari, tokoh kharismatik yang kemudian menjadi pendiri NU. Pesantren Tebuireng itu menambah kematangan kepribadian Kiai Abbas, sebab di pesantren itu ia bertemu dengan para santri lain dan kiai yang terpandang seperti KH. Abdul Wahab Chasbullah (tokoh dan sekaligus arsitek berdirinya NU) dan KH. Abdul Manaf turut mendirikan pesantren Lirboyo, kediri Jawa Timur.&lt;br /&gt;Walaupun keilmuannya sudah cukup tinggi, namun ia seorang santri yang gigih, karena itu tetap berniat memperdalam keilmuannya dengan belajar ke Mekkah Al-Mukarramah. Beruntunglah ia belajar ke sana, sebab saat itu di sana masih ada ulama Jawa terkenal tempat berguru, yaitu KH. Machfudz Termas (asal Pacitan, Jatim) yang karya-karya (kitab kuning) –nya termasyhur itu. Di Mekkah, ia kembali bersama-sama dengan KH. Bakir Yogyakarta, KH. Abdillah Surabaya dan KH. Wahab Chasbullah Jombang. Sebagai santri yang sudah matang, maka di waktu senggang Kiai Abbas ditugasi untuk mengajar pada para mukminin (orang-orang Indonesia yang tertinggal di Mekkah). Santrinya antara, KH. Cholil Balerante, Palimanan, KH. Sulaiman Babakan, Ciwaringin dan santri-santri lainnya. (bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4878495480096591345-4336426164761167766?l=uwhmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://uwhmaksum.blogspot.com/feeds/4336426164761167766/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4878495480096591345&amp;postID=4336426164761167766' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4878495480096591345/posts/default/4336426164761167766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4878495480096591345/posts/default/4336426164761167766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://uwhmaksum.blogspot.com/2008/05/kh-abbas-djamil-buntet-1879-1946.html' title='KH. Abbas Djamil Buntet (1879 – 1946) (Tulisan - Pertama)'/><author><name>GusMaksum.Com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06399410419983207110</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_1Fy9u8mk4AY/SHDXVTcBPTI/AAAAAAAAAB0/SvZn35TzM9E/S220/IMAGE0001.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4878495480096591345.post-8662829312419888992</id><published>2008-05-28T11:15:00.000-07:00</published><updated>2008-11-13T00:31:38.418-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kidung Mauidzoh Hasanah'/><title type='text'>Cinta Tuhan, Cinta Sesama</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_1Fy9u8mk4AY/SDzfZRjEmOI/AAAAAAAAABU/nR0QiMacaPY/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205280894633679074" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_1Fy9u8mk4AY/SDzfZRjEmOI/AAAAAAAAABU/nR0QiMacaPY/s320/images.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Oleh: Muhammad Soffa Ihsan&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Mencintai Tuhan dengan mencintai manusia, mari menyitir kisah seorang sufi, Abu Ben Adhim. Suatu malam, Abu Ben Adhim terbangun dari mimpinya yang indah.&lt;br /&gt;Dan ia lihat, di ruangan dalam cahaya terang rembulan, yang gemerlap ceria seperti bunga lili yang sedang merekah, seorang malaikat menulis pada kitab emas. Ketenteraman jiwa membuatnya berani berkata kepada sang Sosok di kamarnya, "Apa yang sedang kamu tulis?" Bayangan terang itu mengangkat kepalanya dan dengan pandangan yang lembut dan manis ia berkata, "Nama-nama mereka yang mencintai Tuhan." "Adakah namaku di situ?" kata Abu. "Tidak. Tidak ada," jawab malaikat. Abu berkata dengan suara lebih rendah, tapi tetap ceria, "Kalau begitu aku bermohon, tuliskan aku sebagai orang yang mencintai sesama manusia." Malaikat menulis dan menghilang. Pada malam berikutnya ia datang lagi dengan cahaya yang menyilaukan dan memperlihatkan nama-nama yang diberkati cinta Tuhan. Aduhai! Nama Abu Ben Adhim diatas semua nama. Abu Ben Adhim mungkin lahir di negara yang sekarang ini disebut Afganistan. Ia tidak begitu dikenal dibandingkan dengan teman senegaranya, Jalaluddin Balkhi (alias Rumi). Tetapi, keduanya menekankan pentingnya kecintaan kepada Tuhan sebagai hakikat keberagamaan. Baik Abu Ben Adhim maupun Rumi percaya bahwa kita tidak bisa mencintai Tuhan tanpa mencintai sesama manusia. Mereka menegaskan kembali apa yang dikatakan Tuhan kepada hamba-Nya pada hari kebangkitan: pada hari kiamat, Tuhan memanggil hamba-hamba-Nya. Ia berkata kepada salah seorang di antara mereka, "Aku lapar, tapi kamu tidak memberi makan kepada-Ku." Ia berkata kepada yang lainnya, "Aku haus, tapi kamu tidak memberiku minum." Ia berkata kepada hamba-Nya yang lainnya lagi, "Aku sakit, tapi kamu tidak menjenguk-Ku." Ketika hamba-hamba-Nya mempertanyakan semuanya ini, Ia menjawab, "Sungguh si fulan lapar; jika kamu memberi makan kepadanya, kamu akan menemukan Aku bersamanya. Si fulan sakit; jika kamu mengunjunginya, kamu akan menemukan Aku bersamanya. Si fulan haus; jika kamu memberinya minum, kamu akan menemukan Aku bersamanya." (Ibn Arabi sering mengutip hadis ini dalam Al-Futuhat al-Makkiyah). Ketika seorang murid baru mengikuti tarekat, syaikh-nya akan mengajarinya untuk menjalankan tiga tahap latihan rohaniah selama tiga tahun. Ia baru diizinkan mengikuti Jalan Tasawuf, bila ia lulus melewatinya. Tahun pertama adalah latihan berkhidmat kepada sesama manusia. Tahun kedua beribadat kepada Tuhan, dan tahun ketiga mengawasi hatinya sendiri. Kita tidak bisa beribadat kepada Tuhan sebelum kita berkhidmat kepada sesama manusia. Menyembah Allah adalah berkhidmat kepada makhluk-Nya. Abu Said Abul Khayr terkenal sebagai sufi yang pertama kali mendirikan tarekat sufi. Ketika salah seorang pengikutnya menceritakan seorang suci yang dapat berjalan di atas air, ia berkata, "Sejak dahulu katak dapat melakukannya!" Ketika muridnya kemudian menyebut orang yang dapat terbang, ia menjawab singkat, "Lalat dapat melakukannya lebih baik." Muridnya bertanya, "Guru, gerangan apakah ciri kesucian itu?" Ia menjawab, "Cara terbaik untuk mendekati Tuhan adalah melakukan perkhidmatan sebaik-baiknya kepada sesama manusia, memasukkan kebahagiaan ke dalam hatinya." Mungkin karena perhatiannya yang sangat besar pada cinta kasih, kaum sufi banyak menyerap dari berbagai hikmah yang bisa diteladani demi meningkatkan kemuliaan diri (tahdzib al-akhlaq). Prinsip sufistik selaras sabda Nabi Muhammad:”ambilah hikmah dari mana datangnya.” Kaum sufi juga belajar jalan cinta dari kisah Musa. Seorang syaikh menyampaikan cerita berikut ini, Kaum Bani Israil satu kali mendatangi Musa, "Wahai Musa, kami ingin mengundang Tuhan untuk menghadiri jamuan makan kami. Bicaralah kepada Tuhan supaya Dia berkenan menerima undangan kami." Dengan marah Musa menjawab, "Tidakkah kamu tahu bahwa Tuhan tidak memerlukan makanan?" Tetapi, ketika Musa menaiki bukit Sinai, Tuhan berkata kepadanya, "Kenapa tidak engkau sampaikan kepada-Ku undangan itu? Hamba-hamba-Ku telah mengundang Aku. Katakan kepada mereka, Aku akan datang pada pesta mereka Jumat petang." Musa menyampaikan sabda Tuhan itu kepada umatnya. Berhari-hari mereka sibuk mempersiapkan pesta itu. Pada Jumat sore, seorang tua tiba dalam keadaan lelah dari perjalanan jauh. "Saya lapar sekali," katanya kepada Musa. "Berilah aku makanan." Musa berkata, "Sabarlah, Tuhan Rabbul Alamin akan datang. Ambillah ember ini dan bawalah air ke sini. Kamu juga harus memberikan bantuan." Orang tua itu membawa air dan sekali lagi meminta makanan. Tapi tak seorang pun memberikan makanan sebelum Tuhan datang. Hari makin larut, dan akhirnya orang-orang mulai mengecam Musa yang mereka anggap telah memperdayakan mereka. Musa menaiki bukit Sinai dan berkata, "Tuhanku, saya sudah dipermalukan di hadapan setiap orang karena Engkau tidak datang seperti yang Engkau janjikan." Tuhan menjawab, "Aku sudah datang. Aku telah menemui kamu langsung, bahkan ketika Aku bicara kepadamu bahwa Aku lapar, kau menyuruh Aku mengambil air. Sekali lagi Aku minta, dan sekali lagi engkau menyuruh-Ku pergi. Baik kamu maupun umatmu tidak ada yang menyambut-Ku dengan penghormatan." "Tuhanku, seorang tua memang pernah datang dan meminta makanan, tapi ia hanyalah manusia biasa," kata Musa. "Aku bersama hamba-Ku itu. Sekiranya kamu memuliakan dia, kamu memuliakan Aku juga. Berkhidmat kepadanya berarti berkhidmat kepada-Ku. Seluruh langit terlalu kecil untuk meliputi-Ku, tetapi hanya hati hamba-Ku yang dapat meliputi-Ku. Aku tidak makan dan minum, tetapi menghormati hamba-Ku berarti menghormati Aku. Melayani mereka berarti melayani Aku." Berbakti kepada sesama manusia bukanlah kewajiban sekelompok orang. Setiap Muslim apa pun jenis kelamin, usia, dan status sosialnya berkewajiban memperlakukan semua orang dengan baik. Dalam Al-Quran juga ada perintah, "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Berbaktilah kepada kedua orangtua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, orang-orang yang kehabisan bekal, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, yaitu orang-orang yang kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Kami telah menyediakan orang-orang kafir seperti itu, siksa yangmenghinakan."(QS.Al-Nisa’,36-37) Tindakan membahagiakan orang lain disebut sebagai shadaqah. Kata ini berasal dari "shadaqa", yang berarti benar sejati atau tulus. Orang yang bersedekah adalah orang yang imannya tulus. Sedekah tidak selalu berbentuk harta atau uang. "Termasuk sedekah adalah engkau tersenyum ketika berjumpa dengan saudaramu, atau engkau singkirkan duri dari jalanan," sabda Nabi Muhammad SAW. Untuk bisa menolong orang lain dengan tulus, kita memerlukan kecintaan tanpa syarat (unconditional love) kepada semua orang. Cinta inilah yang dimasukkan sebagai fitrah dalam hati kita. Cinta ini adalah seperseratus dari Rahmat Allah yang dijatuhkan Tuhan di Bumi. Alkisah, bertahun-tahun yang lalu, seorang ibu dari salah seorang sultan dari Khilafah Utsmaniyah membaktikan hidupnya untuk kegiatan amal saleh. Ia membangun masjid, rumah sakit besar, dan sumur-sumur umum untuk daerah permukiman yang tidak punya air di Istanbul, Turki. Pada suatu hari, ia mengawasi pembangunan rumah sakit yang dibiayai sepenuhnya dari kekayaannya. Ia melihat ada semut kecil jatuh pada adukan beton yang masih basah. Ia memungut semut itu dan menempatkannya pada tanah yang kering. Tidak lama setelah itu, ia meninggal dunia. Kepada banyak kawannya, ia muncul dalam mimpi mereka. Ia tampak bersinar bahagia dan cantik. Kawan-kawannya bertanya, apakah ia masuk ke surga karena sedekah-sedekah yang dilakukannya ketika masih hidup? Ia menjawab, "Saya tidak masuk surga karena semua sumbangan yang sudah aku berikan. Saya masuk surga karena seekor semut.." &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4878495480096591345-8662829312419888992?l=uwhmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://uwhmaksum.blogspot.com/feeds/8662829312419888992/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4878495480096591345&amp;postID=8662829312419888992' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4878495480096591345/posts/default/8662829312419888992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4878495480096591345/posts/default/8662829312419888992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://uwhmaksum.blogspot.com/2008/05/cinta-tuhan-cinta-sesama.html' title='Cinta Tuhan, Cinta Sesama'/><author><name>GusMaksum.Com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06399410419983207110</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_1Fy9u8mk4AY/SHDXVTcBPTI/AAAAAAAAAB0/SvZn35TzM9E/S220/IMAGE0001.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_1Fy9u8mk4AY/SDzfZRjEmOI/AAAAAAAAABU/nR0QiMacaPY/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4878495480096591345.post-4366717878213638395</id><published>2008-05-26T23:00:00.000-07:00</published><updated>2008-05-27T21:30:12.400-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kidung Mauidzoh Hasanah'/><title type='text'>SUNAN KALIJAGA</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;SUNAN KALIJAGA&lt;br /&gt; HUTAN Jatiwangi, pada suatu masa. Di rindang lebat pepohonan jati di kawasan Lasem, Rembang, Jawa Tengah, itu dua lelaki berbeda umur tegak berhadapan. Yang satu pemuda berpakaian serba hitam. Di depannya seorang pria lebih tua, dibalut busana serba putih. Sebatang tongkat menyangga tubuhnya. Pemuda berbaju hitam itu bernama Lokajaya, berandal yang gemar membegal pejalan yang melewati hutan Jatiwangi. Ia silau oleh kemilau kuning keemasan gagang tongkat yang dibawa pria berjubah putih. Siapa pun orang berjubah putih itu, layaklah ia menjadi mangsa Lokajaya. Dan ketika tongkat itu direbut, orang tua tadi sama sekali tak berlawan. Ia tersungkur di tanah, kehilangan keseimbangan. Tongkat berkepala emas itu berpindah tangan. Bangkit dari jatuhnya, orang tua itu memberi nasihat, dengan tutur kata lembut. Nasihat inilah yang mengubah jalan hidup Lokajaya. Ia menjadi murid orang tua itu --yang tiada lain daripada Sunan Bonang. Lokajaya sendiri kemudian dikenal sebagai Sunan Kalijaga. Begitulah legenda Sunan Kalijaga mengalir, dalam berbagai versi. Jalan hidup sunan yang satu ini tercantum dalam berbagai naskah kuno, babad, serat, hikayat, atau hanya cerita tutur turun-temurun. Mudah dipahami kalau muatannya berbeda-beda. Begitu pula halnya dengan asal-usul Sunan Kalijaga. Menurut Babad Tanah Jawi, Sunan Kalijaga adalah putra Wilwatikta, Adipati Tuban. Nama aslinya Raden Said, atau Raden Sahid. Menurut babad dan serat, Sunan Kalijaga juga disebut Syekh Malaya, Raden Abdurrahman, dan Pangeran Tuban. Gelar ''Kalijaga'' sendiri punya banyak tafsir. Ada yang menyatakan, asalnya dari kata jaga (menjaga) dan kali (sungai). Versi ini didasarkan pada penantian Lokajaya akan kedatangan Sunan Bonang selama tiga tahun, di tepi sungai. Ada juga yang menulis, kata itu berasal dari nama sebuah desa di Cirebon, tempat Sunan Kalijaga pernah berdakwah. Kelahiran Sunan Kalijaga pun menyimpan misteri. Ia diperkirakan lahir pada 1430-an, dihitung dari tahun pernikahan Kalijaga dengan putri Sunan Ampel. Ketika itu Sunan Kalijaga diperkirakan berusia 20-an tahun. Sunan Ampel, yang diyakini lahir pada 1401, ketika menikahkan putrinya dengan Sunan Kalijaga, berusia 50-an tahun. Sunan Kalijaga dilukiskan hidup dalam empat era pemerintahan. Yakni masa Majapahit (sebelum 1478), Kesultanan Demak (1481-1546), Kesultanan Pajang (1546-1568), dan awal pemerintahan Mataram (1580-an). Begitulah yang dinukilkan Babad Tanah Jawi, yang memerikan kedatangan Sunan Kalijaga ke kediaman Panembahan Senopati di Mataram. Tak lama setelah itu, Sunan Kalijaga wafat. Jika kisah itu benar, Sunan Kalijaga hidup selama sekitar 150-an tahun! Tapi, lepas dari berbagai versi itu, kisah Sunan Kalijaga memang tak pernah padam di kalangan masyarakat pesisir utara Jawa Tengah, hingga Cirebon. Terutama caranya berdakwah, yang dianggap berbeda dengan metode para wali yang lain. Ia memadukan dakwah dengan seni budaya yang mengakar di masyarakat. Misalnya lewat wayang, gamelan, tembang, ukir, dan batik, yang sangat populer pada masa itu. Babad dan serat mencatat Sunan Kalijaga sebagai penggubah beberapa tembang, di antaranya Dandanggula Semarangan --paduan melodi Arab dan Jawa. Tembang lainnya adalah Ilir-Ilir, meski ada yang menyebutnya karya Sunan Bonang. Lariknya punya tafsir yang sarat dengan dakwah. Misalnya tak ijo royo-royo dak sengguh penganten anyar. Ungkapan ijo royo-royo bermakna hijau, lambang Islam. Sedangkan Islam, sebagai agama baru, diamsalkan penganten anyar, alias pengantin baru. Peninggalan Sunan Kalijaga lainnya adalah gamelan, yang diberi nama Kanjeng Kyai Nagawilaga dan Kanjeng Kyai Guntur Madu. Gamelan itu kini disimpan di Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta, seiring dengan berpindahnya kekuasan Islam ke Mataram. Pasangan gamelan itu kini dikenal sebagai gamelan Sekaten. Karya Sunan Kalijaga yang juga menonjol adalah wayang kulit. Ahli sejarah mencatat, wayang yang digemari masyarakat sebelum kehadiran Sunan Kalijaga adalah wayang beber. Wayang jenis ini sebatas kertas yang bergambar kisah pewayangan. Sunan Kalijaga diyakini sebagai penggubah wayang kulit. Tiap tokoh wayang dibuat gambarnya dan disungging di atas kulit lembu. Bentuknya berkembang dan disempurnakan pada era kejayaan Kerajaan Demak, 1480-an. Cerita dari mulut ke mulut menyebut, Kalijaga juga piawai mendalang. Di wilayah Pajajaran, Sunan Kalijaga lebih dikenal sebagai Ki Dalang Sida Brangti. Bila sedang mendalang di kawasan Tegal, Sunan Kalijaga bersalin nama menjadi Ki Dalang Bengkok. Ketika mendalang itulah Sunan Kalijaga menyisipkan dakwahnya. Lakon yang dimainkan tak lagi bersumber dari kisah Ramayana dan Mahabarata. Sunan Kalijaga mengangkat kisah-kisah carangan. Beberapa di antara yang terkenal adalah lakon Dewa Ruci, Jimat Kalimasada, dan Petruk Dadi Ratu. Dewa Ruci ditafsirkan sebagai kisah Nabi Khidir. Sedangkan Jimat Kalimasada tak lain perlambang dari kalimat syahadat. Bahkan kebiasan kenduri pun jadi sarana syiarnya. Sunan Kalijaga mengganti puja-puji dalam sesaji itu dengan doa dan bacaan dari kitab suci Al-Quran. Di awal syiarnya, Kalijaga selalu berkeliling ke pelosok desa. Menurut catatan Prof. Husein Jayadiningrat, Kalijaga berdakwah hingga ke Palembang, Sumatera Selatan, setelah dibaiat sebagai murid Sunan Bonang. Di Palembang, ia sempat berguru pada Syekh Sutabaris. Cuma, keberadaan Sunan Kalijaga di ''bumi Sriwijaya'' itu tidak meninggalkan catatan tertulis. Hanya disebut dalam Babad Cerbon, Sunan Kalijaga tiba di kawasan Cirebon setelah berdakwah dari Palembang. Konon, Kalijaga ingin menyusul Sunan Bonang, yang pergi ke Mekkah. Tapi, oleh Syekh Maulana Magribi, Kalijaga diperintahkan balik ke Jawa. Babad Cerbon menulis, Sunan Kalijaga menetap beberapa tahun di Cirebon, persisnya di Desa Kalijaga, sekitar 2,5 kilometer arah selatan kota. Pada awal kedatangannya, Kalijaga menyamar dan bekerja sebagai pembersih masjid Keraton Kasepuhan. Di sinilah Sunan Kalijaga bertemu dengan Sunan Gunung Jati. Kisah pertemuannya rada-rada aneh. Sunan Gunung Jati sengaja menguji Kalijaga dengan sebongkah emas. Emas itu ditaruh di padasan, tempat orang mengambil wudu. Kalijaga sendiri tak kaget mengingat ajaran Sunan Ampel, ''ojo gumunan lan kagetan'' (jangan mudah heran dan terkejut). Ia ''menyulap'' emas menjadi batu bata, dan menjadikannya tempat menaruh bakiak bagi orang yang berwudu. Giliran Sunan Gunung Jati yang takjub. Ia pun ''menganugerahkan'' adiknya, Siti Zaenah, untuk diperistri Sunan Kalijaga. Hanya beberapa tahun Sunan Kalijaga dikisahkan menetap di Cirebon. Dakwahnya berlanjut ke arah timur, lewat pesisir utara sampai ke Kadilangu, Demak. Di sinilah diyakini Sunan Kalijaga menetap lama hingga akhir hayatnya. Kadilangu merupakan tempat Sunan Kalijaga membina kehidupan rumah tangga. Istri yang disebut-sebut hanyalah Dewi Sarah, putri Maulana Ishak. Pernikahan dengan Dewi Sarah itu membuahkan tiga anak, satu di antaranya Raden Umar Said, yang kelak bergelar Sunan Muria. Sunan Muria dan Sunan Kudus tergolong satu aliran dalam berdakwah dengan Sunan Kalijaga. Metode dakwah aliran Kalijaga itu amat keras ditentang Sunan Ampel, mertuanya, dan Sunan Drajat, kakak iparnya. Hingga kini para pengikut ajaran Sunan Kalijaga, Sunan Muria, dan Sunan Kudus dikenal dengan sebutan kelompok ''Islam abangan''. Julukan ini hingga kini melekat pada masyarakat di sepanjang pesisir utara, dari Demak, Semarang, Tegal, hingga Cirebon. Selain dakwah dengan kontak budaya, kisah spektakuler lainnya adalah pendirian Masjid Agung Demak. Babad Demak menyebutkan, masjid itu berdiri pada 1477, berdasarkan candrasengkala ''Lawang Trus Gunaning Janma'' --bermakna angka 1399 tahun Saka. Kisah pendirian Masjid Agung Demak sendiri banyak bercampur dengan dongeng. Masih belum jelas, benarkah kesembilan wali berada di tempat ini dalam satu waktu. Untuk keperluan dakwah, Syarif Hidayatullah pada tahun itu juga menikahi Ratu Kawunganten. Dari pernikahan ini, dia dikarunia dua putra, Ratu Winahon dan Pangeran Sabangkingking. Pangeran Sabangkingking kemudian dikenal sebagai Sultan Hasanudin, dan diangkat jadi Sultan Banten. Ratu Winahon, yang lebih dikenal dengan sebutan Ratu Ayu, dinikahkah dengan Fachrulllah Khan, alias Faletehan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4878495480096591345-4366717878213638395?l=uwhmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://uwhmaksum.blogspot.com/feeds/4366717878213638395/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4878495480096591345&amp;postID=4366717878213638395' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4878495480096591345/posts/default/4366717878213638395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4878495480096591345/posts/default/4366717878213638395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://uwhmaksum.blogspot.com/2008/05/sunan-kalijaga.html' title='SUNAN KALIJAGA'/><author><name>GusMaksum.Com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06399410419983207110</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_1Fy9u8mk4AY/SHDXVTcBPTI/AAAAAAAAAB0/SvZn35TzM9E/S220/IMAGE0001.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
